Logo Bloomberg Technoz

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (28/7/2026).

  1. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mengurangi 7,3 poin
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 6,65 poin
  3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 4,92 poin
  4. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) mengurangi 3,52 poin
  5. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 3,23 poin
  6. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengurangi 3,2 poin
  7. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 2,99 poin
  8. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 2,93 poin
  9. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 2,78 poin
  10. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengurangi 2,15 poin

Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat IHSG, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turun 2,95%, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) amblas 2,91%, dan juga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melemah 2,69%.

Senada dengan saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) drop 2,69%, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melemah 2,38%, dengan saham PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) terpeleset 2,29% hingga menjadi pemberat IHSG.

Rupiah Melemah Mendekati Level Terendah Sepanjang Sejarah

Depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp18.067/US$. Mata uang Tanah Air melemah 0,34% pada Selasa (28/7/2026).

Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp18.094/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday. Mendekati level All Time Low–nya di posisi Rp18.178–an/US$, berdasarkan data Bloomberg.

Sejumlah tekanan masih membayangi pergerakan rupiah, terlebih lagi kekhawatiran pasar muncul baru setelah pengunduran diri mendadak Gubernur BI. 

Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di tengah masa jabatan memunculkan pertanyaan mengenai kesinambungan kebijakan moneter dan independensi bank sentral, dua faktor yang selama ini menjadi fondasi kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia.

Sebagai catatan, rupiah telah melemah mencapai 7,62% sepanjang tahun ini. Sedang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 29,1%, dan yield obligasi pemerintah masih berada di posisi tinggi. 

Rupiah Year to Date Tahun 2026 (Bloomberg)

Kekhawatiran pasar terlihat jelas bukan hanya pada nilai tukar rupiah, tetapi juga dari persepsi risiko Indonesia, premi risiko yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) Indonesia ikut meningkat. Melansir data Bloomberg, CDS Indonesia masih bertahan tinggi di level 93,48.

Investor diperkirakan tetap berhati-hati di tengah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia, pergantian gubernur BI yang kemungkinan dapat mengubah arah kebijakan moneter, dan potensi penurunan peringkat yang pasar dari Moody's dan MSCI. 

Mengutip Phintraco Sekuritas, berlanjutnya tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, dipengaruhi oleh berlanjutnya penguatan indeks dolar AS menjelang pertemuan The Fed di minggu ini. Sedang dari domestik, investor masih bersikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait penunjukkan Gubernur Bank Indonesia definitif berikutnya yang dinilai dapat berpengaruh terhadap kebijakan bank sentral ke depannya.

(fad/wep)

No more pages