Rencana investasi tersebut ditujukan untuk menopang ekspansi operasional pabrik secara signifikan, termasuk produksi robot humanoid Optimus, inisiatif AI, kendaraan otonom Cybercab, serta perluasan armada robotaxi. Tesla memang telah mengurangi penekanan pada bisnis mobil konvensionalnya, meskipun angka penjualan menunjukkan tanda-tanda pemulihan dari penurunan yang berlangsung selama dua tahun terakhir.
Di tengah pembengkakan anggaran belanja—serta klaim bombastis dari sang CEO mengenai pengeluaran yang lebih besar ke depan—total belanja kuartal kedua Tesla masih berada di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai target capex tahun ini. Hal ini makin mempertegas dinamika di seputar investasi AI, di mana lonjakan dramatis dalam penggunaan kas sekalipun belum tentu cukup untuk mengimbangi laju persaingan.
Sebagai pembanding, Alphabet Inc baru saja menaikkan proyeksi belanja modal tahun 2026. Perusahaan memberi tahu para investor bahwa pengeluaran dapat mencapai US$205 miliar demi membangun kapasitas komputasi yang menopang rencana AI-nya.
“Tesla adalah satu dari sedikit perusahaan yang seharusnya membelanjakan lebih banyak untuk AI,” kata Max Gokhman, kepala AI dan solusi aset digital di Franklin Templeton. “Pengeluaran yang lebih rendah bagi mereka justru membingungkan, mengingat betapa besarnya masa depan mereka digantungkan pada adopsi AI di setiap lini bisnisnya.”
Jika diukur dengan metrik tradisional, kuartal ini menjadi periode yang serba kontradiktif bagi sang produsen EV. Laba bersih yang disesuaikan anjlok ke level 33 sen per saham, jauh di bawah estimasi rata-rata para analis yang dihimpun Bloomberg sebesar 51 sen per saham. Perusahaan juga melaporkan arus kas bebas negatif sebesar US$1,09 miliar.
Di sisi lain, pendapatan tercatat mencapai US$28,2 miliar, berhasil melampaui estimasi pasar. Capaian positif ini datang beberapa pekan setelah Tesla melaporkan penjualan lebih dari 480.000 unit kendaraan pada kuartal tersebut, jauh di atas ekspektasi. Penjualan mobil tetap menjadi penopang bisnis paling vital bagi Tesla, sementara proyek robotaxi dan lini lainnya belum menghasilkan pendapatan yang signifikan.
Tekanan terhadap laba dipicu oleh penurunan harga jual rata-rata kendaraan seiring langkah perusahaan yang memberikan berbagai insentif untuk menggaet pembeli. Tesla juga menghentikan produksi Model S dan Model X—dua varian mobil dengan harga tertinggi. Di saat yang sama, beban operasional melonjak 47% menjadi US$4,35 miliar.
Perusahaan turut melaporkan penurunan pendapatan dari kredit regulasi, yaitu pembayaran yang diterima dari produsen mobil lain yang melampaui standar emisi. Sumber pendapatan ini menyusut seiring langkah Presiden AS Donald Trump yang melonggarkan target energi bersih yang sempat ditetapkan oleh pendahulunya.
“Tesla menyampaikan kinerja kuartal kedua terbaiknya dan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sejati pertama dalam lebih dari setahun, namun pasar justru berfokus pada melesetnya perolehan laba secara tajam,” ungkap Ivan Feinseth, analis di Tigress Financial Partners dalam catatan risetnya. Meskipun volume penjualan mobil melonjak sepanjang periode tersebut, “volume itu dibeli dengan diskon besar-besaran, sehingga margin keuntungan ikut tergerus.”
Peningkatan Pelanggan FSD
Jumlah pelanggan layanan Full Self-Driving (FSD) meningkat menjadi hampir 1,5 juta pelanggan, naik sekitar 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan melanjutkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Tesla tidak mengungkapkan target baru untuk bisnis robotaxi yang masih dalam tahap awal. Layanan tersebut baru-baru ini diperluas ke Miami, Orlando, dan Tampa, setelah sebelumnya diluncurkan di sejumlah kota di Texas. Tesla juga menegaskan rencana ekspansi ke Phoenix dan Las Vegas. Selain itu, perusahaan menawarkan layanan berbagi kendaraan melalui aplikasi yang sama di wilayah San Francisco Bay Area, meski layanan tersebut lebih menyerupai Uber dan Lyft.
Para eksekutif Tesla tetap berhati-hati dalam memperluas layanan robotaxi. Musk menekankan pentingnya aspek keselamatan serta keinginan perusahaan menghindari pemberitaan negatif.
Tanpa mengungkapkan jumlah kendaraan tanpa pengemudi yang beroperasi, Kepala AI Tesla Ashok Elluswamy mengatakan armada robotaxi telah menempuh lebih dari 380.000 mil perjalanan tanpa pengawasan di enam kota. Ia menambahkan peluncuran layanan di kota-kota baru akan terus dipercepat. Namun, informasi tersebut dinilai belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor terkait lambatnya pertumbuhan bisnis robotaxi dan kemampuannya bersaing dengan pemimpin pasar, Waymo, yang mencatat jutaan mil perjalanan setiap pekan.
Tesla juga menyebut masih mengumpulkan lebih banyak data uji coba untuk Cybercab sebelum kendaraan tersebut dapat dioperasikan secara luas. Kendaraan yang dirancang khusus itu mulai diproduksi awal tahun ini, tetapi masih membutuhkan pengecualian dari regulasi yang berlaku. Meski demikian, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) telah mengusulkan perubahan aturan yang dinilai dapat mempermudah proses tersebut. Wakil Presiden Bidang Rekayasa Kendaraan Tesla, Lars Moravy, mengatakan perusahaan memiliki hubungan yang baik dengan NHTSA dan tidak memperkirakan akan menghadapi hambatan berarti dari regulasi federal.
Kepala Divisi Ekuitas sekaligus Manajer Portofolio Aptus Capital Advisors, David Wagner, mengatakan timnya kini semakin melihat Tesla bukan hanya sebagai produsen kendaraan listrik, melainkan sebagai perusahaan AI dan robotika.
"Valuasi Tesla pada akhirnya akan sangat bergantung pada keberhasilan komersialisasi Full Self-Driving, Cybercab, robot humanoid Optimus, serta bisnis penyimpanan energi Megapack yang memiliki margin keuntungan tinggi," tulis Wagner dalam catatannya.
IPO SpaceX
Kuartal kedua juga menjadi tonggak penting bagi perusahaan lain yang dipimpin Musk, SpaceX, setelah resmi melantai di bursa melalui penawaran saham perdana (IPO) yang memecahkan rekor.
Perusahaan peluncuran roket tersebut berhasil menghimpun dana puluhan miliar dolar AS di tengah tingginya antusiasme investor, sehingga sempat menjadikan Musk sebagai triliuner pertama di dunia, meski hanya dalam waktu singkat. Namun, saham SpaceX melemah dalam beberapa pekan terakhir sehingga turut mengurangi nilai kekayaan Musk.
Di kalangan investor, muncul spekulasi luas bahwa Tesla dan SpaceX berpotensi bergabung di masa depan karena memiliki ambisi yang sama dalam pengembangan AI. Musk, yang sebelumnya pernah berbicara mengenai "konvergensi" berbagai perusahaannya, mengakui semakin banyak sinergi di antara keduanya. Meski begitu, ia menegaskan pembahasan mengenai merger bukan sesuatu yang dapat disampaikan dalam konferensi pers laporan keuangan Tesla.
SpaceX sendiri telah mengakuisisi perusahaan AI milik Musk, xAI, yang kini bernama SpaceXAI, pada Februari lalu. Selain itu, SpaceX dan Tesla juga telah menjalin kerja sama bisnis, di mana Tesla memasok baterai Megapack dan kendaraan Cybertruck kepada SpaceX, sementara chatbot AI Grok kini telah tersedia di sejumlah kendaraan Tesla.
"Kami tidak bisa membahas penggabungan perusahaan atau hal-hal semacam itu dalam konferensi laporan keuangan. Semua harus dilakukan melalui proses yang semestinya," kata Musk.
(bbn)
































