Logo Bloomberg Technoz

Moshe menilai pasokan minyak mentah dari Rusia berpotensi menambah ketahanan energi Indonesia, di tengah ketidakpastian pasar migas global.

“Pemerintah harus bisa memastikan diversifikasi suplai kita agar ketahanan energi kita tidak terganggu,” ungkap Moshe.

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kenaikan harga minyak mentah yang belakangan terjadi berpotensi menambah beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Dia menyatakan harga minyak yang tinggi akan meningkatkan subsidi dan kompensasi energi, bila pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, liquified petroleum gas (LPG) 3 Kg, dan listrik bersubsidi.

“Jadi, pemerintah menghadapi pilihan yang sulit: menahan harga berarti beban fiskal naik, menaikkan harga berarti daya beli turun. S&P juga menilai posisi fiskal dan eksternal Indonesia melemah sementara karena harga energi tinggi, suku bunga tinggi, rupiah lemah, ketidakpastian kebijakan, dan akumulasi utang, meskipun prospek peringkat tetap stabil,” tegasnya.

Futures minyak Brent./dok. Bloomberg

Adapun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan saat ini perekonomian Indonesia—terutama keadaan fiskal — dalam kondisi yang aman.

"Amannya yang jelas itu peringkat stabil. Nanti sebentar lagi dari sana ada keluar lagi [peringkat] dari China akan bagus juga, defisit terkendali,” kata Purbaya saat ditemui di Istana Negara, Senin (20/7/2026).

Namun demikian, Purbaya mengatakan saat ini pemerintah juga mewaspadai berbagai faktor eksternal yang mengancam kestabilan fiskal. Salah satunya adalah harga minyak yang sempat mencatatkan kenaikan di awal tahun lalu.

Cuma kita lihat dulu, tadinya kan ketika harga minyak turun, saya akan balikin sebagian ke program-program. Namun, harganya mulai naik lagi, kita mesti hati-hati dulu sebelum tambah belanja,” kata Purbaya.

Sekadar catatan, Goldman Sachs Group Inc. memprediksi harga Brent berpotensi melonjak melampaui US$120/barel pada kuartal IV-2026 jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, meski hal itu bukan skenario dasar bank tersebut.

“Eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan penurunan perkiraan aliran minyak dari Teluk Persia hingga di bawah 45% dari level sebelum perang telah mendorong harga minyak kembali naik,” kata para analis termasuk Daan Struyven dalam catatan tanggal 20 Juli.

Saat ini, Goldman memperkirakan harga Brent mencapai US$80/barel pada kuartal keempat, dan US$75/barel tahun depan, dengan asumsi ketegangan di Timur Tengah mereda.

Namun, risiko terhadap perkiraan tersebut “cenderung ke atas” mengingat gangguan pengiriman di Selat Hormuz, serta potensi gangguan di Laut Merah, kata para analis

Pasar energi global mengalami guncangan bulan ini—di mana harga Brent melonjak kembali di atas US$91/barel—akibat kembali memanasnya pertempuran antara AS dan Iran, serta ancaman Houthi yang didukung Teheran di Yaman untuk memblokade pengiriman dari Arab Saudi.

Aliran pasokan melalui Laut Merah tersebut sangat penting dalam memungkinkan kargo minyak mentah dari Teluk Persia yang terganggu untuk mencapai pelanggan.

Meski persediaan global yang lebih rendah pada kuartal kedua telah membuat pasar minyak lebih rentan terhadap guncangan pasokan, penurunan impor China ditambah dengan elastisitas permintaan yang lebih besar dapat membatasi kenaikan yang diharapkan, kata mereka.

Bagi investor yang ingin melakukan lindung nilai terhadap guncangan geopolitik yang terus-menerus dari Timur Tengah, serta dari Rusia, Goldman menyarankan strategi untuk mengambil posisi beli pada selisih (timespread) harga solar Eropa periode Desember 2026 hingga Maret 2027.

Harga minyak Brent untuk pengiriman September naik 1,3% menjadi US$92,16/barel pada pukul 9:15 pagi ini di Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik 1,1% menjadi US$85,24/barel.

(azr/wdh)

No more pages