Laode juga menepis kekhawatiran publik yang menganggap daerah setempat tidak mendapatkan porsi dari potensi besar gas bumi tersebut.
Untuk menyelaraskan persepsi, Dirjen Migas menjadwalkan pertemuan dengan akademisi lokal, termasuk Rektor Universitas Malikussaleh, guna merumuskan langkah sosialisasi yang efektif.
"Kita mau membuat langkah-langkah sosialisasi yang baik agar masyarakat Aceh juga paham bahwa keberadaan gas ini salah satu prioritasnya adalah untuk masyarakat Aceh," jelas Laode.
Laode menyampaikan pemerintah siap membuka ruang dialog terkait aspirasi dari warga setempat yang menginginkan agar pengelolaan dan pengolahan gas dilakukan di darat (onshore).
Pemerintah akan memaparkan Rencana Pengembangan Lapangan atau Plan of Development (POD) yang telah dirancang guna menemukan titik temu terbaik bagi semua pihak.
"Makanya kita pertemukan. Kita kan POD-nya sudah ada. Nah, nanti kita jelaskan win-win solution-nya seperti apa," pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyatakan temuan cadangan gas jumbo di Blok Andaman, Aceh akan disalurkan melalui pipa transmisi gas bumi Dumai-Sei Mangkei (Dusem) mulai tahun 2028.
Adapun, infrastruktur pipa ini disiapkan agar produksi gas dari Andaman nantinya bisa langsung disalurkan ke berbagai wilayah, baik Sumatra maupun Jawa.
“Pak Laode [Dirjen Migas] bilang 2028 selesai [Dusem]. Itu baru [gas] dia bisa tersambung. Jadi, memang targetnya di Mubadala. Mubadala masuk kan 2028 dan 2029 baru kita tuh over [kelebihan] gas ya,” ungkap Kepala BMPA Nasri Djalal dalam IPA Convex 2026 di ICE BSD, Kamis (21/5/2026).
Nasri menambahkan bahwa saat ini, sudah ada pipa trimline atau yang lebih umum dikenal sebagai control line (trimline control line) dari Arun sampai ke Medan. Sehingga, menunggu sambungan Dumai-Sei Mangkei.
“Jadi, begitu itu tersambung, semuanya dari Aceh itu sampai ke Jawa tersambung pipanya. Nah, saat ini yang eksisting kan ada pipa Arbel namanya. Arun Belawan,” tambahnya.
Di sisi lain, terdapat tantangan dalam menyalurkan gas dari lapangan lepas pantai atau offshore, di antaranya melibatkan infrastruktur bawah laut yang kompleks, kondisi lingkungan ekstrem, dan risiko keselamatan tinggi.
“Nah apalagi nanti ini kan dibuat pipeline dari offshore ke dalam. Kemudian skemanya adalah pakai APBN dan menggunakan multi-years contract. Nah, jadi ya kita berprediksi sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Dirjen Migas,” ungkapnya.
Sebagai catatan Mubadala Energy perusahaan migas asal Uni Emirat Arab (UEA) mengelola lima wilayah kerja di Laut Andaman dengan estimasi total potensi gas yang ditemukan mencapai sekitar 11 Triliun Kaki Kubik (TCF).
Pada tahap awal di Blok South Andaman, produksi gas direncanakan mencapai 312 MMSCFD yang akan onstream sebelum akhir 2028.
Adapun, proyek pembangunan pipa gas transmisi Dusem (Dumai–Sei Mangkei) ditargetkan rampung pada akhir 2027, dengan proyeksi pengaliran gas mulai beroperasi penuh pada tahun 2028.
(smr/ros)






























