Suksesi kepemimpinan ini diperkirakan tidak akan membawa perubahan mendasar dalam tubuh Hamas, yang telah terpuruk akibat perang melawan Israel selama lebih dari 30 bulan. Al-Hayya sendiri telah bertindak sebagai pemimpin de facto sejak tahun 2024, yakni setelah pendahulunya, Yahya Sinwar, tewas dalam operasi militer Israel di Gaza. Sinwar kala itu ditunjuk memimpin setelah Ismail Haniyeh tewas dalam serangan di Iran beberapa bulan sebelumnya.
Al-Hayya telah bermarkas di Qatar sejak sebelum perang Gaza meletus. Pada bulan Juni lalu, putranya tewas dalam serangan udara Israel yang menargetkan dua anggota Hamas di Gaza. Sementara dalam serangan di Doha tahun lalu yang gagal mengenainya, putra Al-Hayya yang lain tewas. Putra ketiganya juga telah gugur dalam perang antara Israel dan Hamas pada tahun 2014.
Jalannya pemungutan suara tersebut diawasi langsung oleh para anggota Dewan Shura—sebuah badan tertutup yang memegang otoritas pengambilan keputusan tertinggi di dalam internal Hamas.
(bbn)

































