Kyiv School of Economics (KSE) Institute mencatat harga rata-rata minyak mentah ESPO dengan basis freight on board (FOB) Kozmino pada Mei 2026—atau periode kemungkinan Indonesia melakukan pemesanan — adalah US$95/barel atau naik US$2,3/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya.
Harga tersebut belum termasuk ongkos pengangkutan, asuransi pengiriman.
“Harga ESPO FOB Kozmino naik sekitar US$2,3/barel dan diperdagangkan di kisaran US$95/barel pada Mei,” tulis KSE Institute dalam riset berjudul Russian Oil Tracker edisi Juni 2026.
KSE mencatat diskon harga ESPO sepanjang Mei 2026 terhadap Brent menyempit sekitar US$13/barel. Dengan begitu, harga ESPO dinilai makin mendekati Brent.
Adapun, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata Dated Brent pada Mei 2026 tercatat sekitar US$107,55/barel, turun US$12,99/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya di level US$120,55/barel.
Sementara itu, harga ICE Brent pada Mei 2026 tercatat sebesar US$103,71/barel. Dengan begitu, harga ESPO Mei 2026 hanya terpaut sekitar US$8,71/barel dari ICE Brent Mei 2026.
Jika dibandingkan dengan WTI Mei 2026, harga ESPO hanya terpaut US$3,51/barel dengan rata-rata harga WTI Mei 2026 sebesar US$98,51/barel.
“Sebelum invasi, minyak mentah Urals FOB secara konsisten diperdagangkan dengan diskon US$1—US$2 per barel dibandingkan dengan Dated Brent, sementara minyak mentah ESPO FOB diperdagangkan dengan premi kecil,” tulis KSE Institute.
Adapun, berdasarkan catatan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), jenis minyak mentah ESPO secara konsisten diperdagangkan di atas batas harga (price cap) yang ditetapkan sejumlah negara Barat terhadap minyak mentah Rusia.
CREA mencatat batas harga minyak Rusia yang ditetapkan sebesar US$60/barel dan turun menjadi US$44,1/barel mulai 1 Februari 2026 tidak berlaku bagi minyak mentah ESPO.
“Minyak mentah ESPO secara konsisten diperdagangkan jauh di atas batas tersebut karena orientasi strukturalnya ke pasar China dan Pasifik,” tulis CREA dalam catatannya.
Sekadar informasi, kapal tanker Sierra berbendera Kamerun dikabarkan telah mengirimkan sekitar 770.000 ribu barel minyak mentah ESPO ke pelabuhan Lawe-Lawe, dari pelabuhan muat Kozmino di Rusia.
Minyak mentah tersebut disebut-sebut diimpor oleh badan layanan umum (BLU), Lemigas dengan nilai sekitar US$75 juta.
Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Berdasarkan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut berada di area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain; Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
Dalam dokumen pengadaan minyak mentah PPN pada Mei, tercatat perusahaan pelat merah tersebut sempat mengumumkan rencana pembelian minyak mentah secara spot ke Kilang Balongan untuk pengiriman Juni.
Dalam dokumen tersebut, salah satu minyak mentah yang dicari oleh PPN merupakan jenis ESPO atau minyak mentah asal Rusia. Disebutkan bahwa PPN mencari minyak mentah ESPO maksimal 315.000 barel pada pengadaan yang diumumkan 29 Mei 2026.
Kendati begitu, belum diketahui pasti volume minyak mentah yang telah masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Lawe-Lawe dan kilang mana yang mengolahnya.
“Pada hari Jumat, tanggal 29 Mei 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan rencana pembelian secara spot Minyak Mentah ke RU VI Balongan untuk periode pengiriman bulan Juni 2026,” sebagaimana tertulis dalam dokumen pengumuman pengadaan minyak mentah PPN.
“Crude oil ESPO Max 315 MB [315.000 barel]. Delivery CFR/DAP RU VI Balongan [Kilang Balongan],” tulis PPN.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan belum dapat memberikan komentar ihwal impor minyak mentah asal Rusia tersebut.
“Khusus untuk hal ini sementara belum bisa saya berkomentar,” kata Laode kepada Bloomberg Technoz, Senin (20/7/2026).
Setala, Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyatakan belum dapat memberikan tanggapan ihwal pengadaan minyak mentah Rusia tersebut.
“Terkait hal tersebut kami masih menunggu, sehingga kami belum bisa ber-statement,” kata Roberth ketika dihubungi, Senin (20/7/2026).
Untuk diketahui, minyak mentah tersebut menjadi minyak Rusia yang dikirimkan perdana ke Indonesia usai terdapat komitmen pasokan sekitar 150 juta barel minyak mentah Rusia ke Indonesia.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan minyak mentah yang diimpor dari Rusia akan diolah menjadi Indonesia Blend.
Yuliot mengatakan pengadaan minyak mentah yang dilakukan Indonesia bisa dilakukan dengan skema Indonesia Blend, yakni minyak mentah yang diterima dari pemasok merupakan pasokan hasil pencampuran.
Dia juga menyebut minyak mentah tersebut bakal disimpan pada storage atau tangki minyak mentah untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
“Kalau untuk kerja sama antarnegara itu mekanismenya adalah melalui BLU sektor energi, jadi kalau BLU sektor energi itu ada yang ini Lemigas,” tegasnya.
(azr/wdh)





























