Mulai September, bank hanya diwajibkan memverifikasi informasi dasar rekening, menurut pernyataan itu.
Penyelesaian transaksi atau settlement akan diproses melalui jaringan baru Bank of Korea yang beroperasi selama 24 jam. Jaringan tersebut akan memulai uji coba pada September sebelum diterapkan penuh pada 2027.
Korea Selatan juga akan mempertimbangkan langkah-langkah untuk mendukung cabang bank asing agar dapat beroperasi pada malam hari, serta memperkenalkan insentif pada September guna mendorong peralihan perdagangan dari non-deliverable forwards (NDF) ke deliverable forwards (DF).
Pelonggaran regulasi tersebut juga akan meningkatkan lebih dari dua kali lipat ambang batas pelaporan transaksi modal, seperti pinjaman dalam won kepada investor asing, sekaligus menyederhanakan prosedur verifikasi transaksi won di bank devisa.
Perubahan ini menandai pergeseran besar bagi negara yang selama ini mempertahankan kontrol ketat terhadap mata uangnya meskipun merupakan ekonomi terbesar keempat di Asia dan salah satu eksportir utama dunia.
Langkah tersebut juga membawa Korea Selatan lebih dekat dengan standar yang diharapkan dari pasar keuangan negara maju, seiring upaya pemerintah menarik investor global dan memperluas penggunaan won di tingkat internasional.
Reformasi ini melanjutkan peluncuran perdagangan won selama 24 jam pada awal bulan ini, yang untuk pertama kalinya memungkinkan investor di New York melakukan transaksi sesuai jam kerja mereka sendiri.
Bersama-sama, reformasi tersebut memungkinkan investor non-residen tidak hanya memperdagangkan won sepanjang waktu, tetapi juga mentransfer dan menyelesaikan transaksi won secara langsung di antara mereka di luar Korea Selatan, menegaskan ambisi pemerintah untuk menginternasionalisasikan mata uang tersebut.
Paket kebijakan ini merupakan perubahan paling signifikan dari kebijakan nilai tukar yang dibentuk pasca krisis keuangan Asia 1997 dan krisis keuangan global 2008, ketika pemerintah lebih mengutamakan pengendalian arus modal dan stabilitas keuangan dibanding keterbukaan pasar.
Pembatasan perdagangan valuta asing selama ini disebut oleh MSCI Inc. sebagai salah satu hambatan utama yang menghalangi Korea Selatan memperoleh status sebagai pasar maju (developed market).
Won yang lebih bebas digunakan juga berpotensi meningkatkan daya tarik aset Korea Selatan bagi pengelola cadangan devisa global, dana pensiun, dan investor institusional lainnya yang lebih menyukai mata uang dengan hambatan operasional yang lebih sedikit.
"Tujuannya adalah membangun jalur khusus agar investor asing dapat lebih mudah menyimpan dan memiliki won, atau menggunakannya untuk pembayaran, penyelesaian transaksi, pendanaan, investasi, dan transfer," kata Kim Hee Jae, Direktur Divisi Keuangan Internasional Kementerian Keuangan Korea Selatan, dalam sebuah pengarahan.
Kim menambahkan bahwa transaksi yang dilakukan di luar mekanisme baru tersebut tetap akan mengikuti ketentuan dalam Foreign Exchange Transactions Act, meskipun aturan tersebut juga sedang dilonggarkan.
Sebagai bagian dari peta jalan tersebut, pemerintah juga mengumumkan berbagai langkah untuk memperdalam permintaan terhadap won di pasar luar negeri.
Pemerintah akan mengizinkan transaksi peminjaman surat berharga (securities lending) atas obligasi pemerintah Korea Selatan dan obligasi stabilisasi moneter antar investor asing melalui lembaga penyimpanan surat berharga internasional seperti Euroclear dan Clearstream.
Selain itu, pemerintah akan memperluas akses bank sentral asing dan lembaga internasional ke pasar interbank repo, mengizinkan investor non-residen menempatkan dana won yang menganggur pada instrumen jangka pendek, serta mengkaji insentif bagi penyelesaian perdagangan internasional menggunakan won.
Untuk mendukung likuiditas, Korea Selatan berencana membangun skema penyangga pendanaan (funding backstop) dua lapis bagi pasar semalam (overnight market).
Dalam skema tersebut, bank devisa akan menyediakan fasilitas cerukan (overdraft) bagi investor asing sebelum Bank of Korea mempertimbangkan dukungan tambahan.
Dana Stabilisasi Valuta Asing juga dapat dimanfaatkan hingga jaringan penyelesaian transaksi milik bank sentral selesai ditingkatkan.
Reformasi ini diumumkan setelah periode volatilitas yang tinggi bagi won. Mata uang tersebut menjadi yang berkinerja terburuk di Asia pada paruh pertama tahun ini, dan beberapa pekan lalu diperdagangkan mendekati level terlemahnya sejak 2009.
Meski demikian, pemerintah tetap melanjutkan liberalisasi dengan alasan bahwa posisi eksternal Korea Selatan yang semakin kuat dan pasar keuangannya yang semakin dalam telah mengurangi risiko yang sebelumnya menjadi dasar penerapan kontrol modal yang ketat.
"Korea Selatan telah berkembang pesat, baik dalam transaksi berjalan maupun transaksi modal," ujar Lee Hyoung Ryoul, Direktur Jenderal Keuangan Internasional Kementerian Keuangan.
"Daripada terus mengkhawatirkan dampak samping seperti krisis mata uang, kami menilai sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengalihkan kebijakan agar dapat memaksimalkan manfaat dari internasionalisasi," katanya.
(bbn)
































