Logo Bloomberg Technoz

Dari sisi indikator teknikal, posisi Moving Average (MA) 21 masih berada di atas harga sehingga berfungsi sebagai dynamic resistance.

Sementara itu, indikator Stochastic Oscillator bergerak menuju area oversold yang mengindikasikan tekanan dari pelaku pasar masih didominasi aksi jual.

Harga Emas di Pasar Spot (Sumber: Bloomberg)

Selain faktor teknikal, Dupoin Futures menilai arah harga emas juga akan dipengaruhi rilis Preliminary University of Michigan Consumer Sentiment dan Preliminary University of Michigan Inflation Expectations Amerika Serikat.

Apabila data sentimen konsumen dirilis lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi inflasi tetap tinggi, dolar AS diperkirakan menguat karena memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dinilai berpotensi kembali menekan harga emas.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaib juga memperkirakan harga emas masih dibayangi tekanan, terutama apabila inflasi Amerika Serikat kembali meningkat akibat eskalasi ketegangan geopolitik.

Menurut Ibrahim, konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi global.

Kondisi tersebut dapat membuat Federal Reserve mempertahankan bahkan kembali menaikkan suku bunga.

"Jika inflasi kembali meningkat, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas dunia maupun logam mulia," ujar Ibrahim.

Dia memperkirakan harga emas dunia bergerak pada kisaran US$3.856-US$4.149 per troy ounce dalam sepekan mendatang. Support pertama berada di level US$3.970 per troy ounce, sedangkan resistance pertama diperkirakan berada di US$4.063 per troy ounce.

Meski demikian, Ibrahim menilai permintaan emas dari bank-bank sentral global masih menjadi faktor penahan pelemahan lebih dalam.

Di pasar domestik, koreksi harga logam mulia juga diperkirakan tidak sedalam emas dunia karena masih ditopang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sebagai catatan, harga emas dunia sebelumnya telah kembali jatuh ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce.

Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7), harga emas spot melemah 1,85% ke level US$3.985,1 per troy ounce, sekaligus menjadi posisi terendah dalam sekitar delapan bulan terakhir.

Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar merespons penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga sebagian investor memilih mengalihkan dana ke aset berbasis dolar.

Meski sempat mencatat reli sepanjang tahun ini di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan pembelian oleh bank-bank sentral, pergerakan emas belakangan cenderung tertahan oleh menguatnya dolar AS serta ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang masih ketat.

(fik/naw)

No more pages