“Kita semua sekarang adalah investor Korea,” ujar Hani Redha, manajer portofolio berbasis di London dari PineBridge Investments.
Namun, meningkatnya pengaruh pasar Korea datang dengan konsekuensi.
Indeks Kospi telah menjadi salah satu tolok ukur (benchmark) utama paling volatil di dunia, dengan perdagangan berbasis leverage yang memperbesar gejolak harga.
Pencatatan saham SK Hynix di AS baru-baru ini juga memperluas pengaruh Korea hingga ke Wall Street.
Akibatnya, perdagangan saham Korea yang semakin didorong sentimen kini ikut menentukan arah saham AI global sepanjang waktu.
Korea kemungkinan menghadapi sesi perdagangan yang kembali bergejolak ketika pasar dibuka setelah libur panjang.
Saham-saham chip global mengalami aksi jual pada Jumat lalu setelah terobosan mengejutkan dari perusahaan rintisan AI China kembali memicu keraguan terhadap investasi belanja modal (capital expenditure/capex) besar-besaran di sektor tersebut.
Redha memulai setiap hari dengan memeriksa pasar Seoul untuk membaca arah perdagangan AI.
Setelah pasar Korea tutup, perhatiannya beralih ke American Depositary Receipts (ADR) SK Hynix dan produk exchange-traded funds (ETF) yang berfokus pada Korea di New York.
“Rasanya seperti pemantauan hampir 24 jam,” katanya.
Dinamika tersebut terlihat jelas pekan lalu. Aksi jual lokal pada Senin yang dipicu oleh keraguan baru terhadap prospek permintaan AI menyebabkan Kospi anjlok hampir 9%, sebelum pelemahan tersebut merambat ke Wall Street. Saham SK Hynix yang tercatat di AS turun 9,3%, menyeret saham chip besar lainnya.
Keterkaitan Kospi
Hubungan yang makin erat ini terlihat jelas dalam data. Korelasi 60 hari antara Kospi dan Nasdaq 100 meningkat menjadi 0,46, mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir dan hampir tiga kali lipat dari rata-rata lima tahun sebesar 0,16, menurut data yang dihimpun Bloomberg.
“Korea secara efektif telah menjadi bagian dari ekosistem volatilitas yang sama dengan Nasdaq dan SOX. SK Hynix, Samsung, dan Kospi kini berfungsi sebagai indikator awal sebelum pasar AS dibuka untuk membaca risiko AI dan sektor semikonduktor,” kata Ivan Feinseth, chief investment officer berbasis New York dari Tigress Financial Partners.
Dia menambahkan bahwa negara Asia tersebut tidak lagi hanya menjadi “pertunjukan sampingan pasar berkembang yang jauh”.
Pengaruh saham Korea bahkan terlihat semakin besar ketika pasar mengalami penurunan.
Sensitivitas indeks Nasdaq 100 terhadap Kospi selama periode pelemahan pasar Korea naik ke level tertinggi sejak 1990 pada 7 Juli, berdasarkan data Bloomberg.
Ukuran serupa untuk MSCI World Index juga meningkat ke level tertinggi dalam empat tahun pada awal bulan ini.
Korelasi antara Kospi dan Nikkei 225 Jepang juga melonjak. Hal itu mendorong Andrew Jackson, kepala strategi saham Jepang di Ortus Advisors, menambahkan grafik Kospi ke dalam daftar pemantauan ketatnya awal tahun ini — sesuatu yang baru pertama kali dilakukan setelah lebih dari dua dekade berkarier.
Herald van der Linde, kepala strategi ekuitas Asia Pasifik di HSBC Holdings Plc, mengatakan Korea kini dibahas dalam “semua rapat” investasi.
Sementara itu, kepala strategi pasar Asia Pasifik di JPMorgan Asset Management, Tai Hui, mengatakan:
“Saya rasa saya belum pernah mempresentasikan Korea kepada tim global saya sampai tahun ini.”
Pengaruh Bisa Berkurang
Meski demikian, pengaruh Korea dapat menyusut apabila tekanan pasar terus berlanjut.
Indeks Kospi telah turun 25% sejak puncaknya pada Juni, menyebabkan koreksi nilai pasar sekitar US$1 triliun yang mengancam mengurangi pengaruh globalnya.
Dua raksasa chip Korea juga kehilangan setidaknya 30% nilai sahamnya. Keputusan Korea untuk sementara menghentikan penerbitan baru produk exchange-traded leveraged berbasis saham tunggal juga dapat membantu mengurangi spekulasi dan volatilitas.
Meski mengalami koreksi, indeks acuan tersebut masih naik 62% sepanjang tahun, menjadikannya salah satu pasar dengan kinerja terbaik di dunia.
Mengingat peran penting SK Hynix dan Samsung Electronics dalam pasokan chip memori global, pasar Korea kemungkinan tetap menjadi denyut utama investasi AI global dalam waktu dekat.
“Ini adalah normal baru yang harus diterima investor selama reli AI masih berlanjut,” kata Chisa Kobayashi, ahli strategi saham Jepang di UBS SuMi TRUST Wealth Management.
“Fakta bahwa pasar digerakkan oleh pasar yang relatif belum matang dengan gejolak terkait leverage membuat perdagangan menjadi sulit, karena pergerakan harga dapat menyimpang dari fundamental.”
(bbn)































