“Tidak ada dampak terhadap pasokan daging ayam atau telur, dan saya mendorong semua orang untuk membeli produk-produk ini seperti biasa,” kata Moriarty.
Virus flu burung H5 pertama kali terdeteksi di negara bagian Australia Barat pada seekor burung laut migran yang mati, yang mengonfirmasi penyebaran virus ini ke setiap benua di planet ini. Tiga kasus lain telah ditemukan di Australia Barat, dengan satu kasus lagi masih menunggu konfirmasi. Satu kasus tercatat di negara bagian Australia Selatan, juga pada burung liar.
Kasus di New South Wales awalnya terdeteksi pada Jumat, setelah itu dikirim ke Pusat Kesiapsiagaan Penyakit Australia untuk mengonfirmasi patogen tersebut.
Menteri Pertanian Australia Julie Collins mengatakan pada Jumat dalam konferensi pers bahwa meski deteksi tersebut "mengecewakan, ini adalah tanda bahwa sistem biosekuriti kami yang kuat berfungsi dengan baik."
“Saat ini tidak ada bukti terjadinya kematian massal akibat flu burung H5, juga tidak ada bukti penyebarannya ke populasi hewan lain saat ini. Selain itu, tidak ada bukti infeksi pada unggas atau sistem pertanian kami, dan risiko terhadap kesehatan manusia tetap rendah,” ujarnya.
Pihak berwenang Australia prihatin terhadap potensi dampak pada satwa liar asli maupun sektor pertanian akibat kemungkinan penyebaran flu burung di negara tersebut. Di AS, virus H5 telah menyebar tidak hanya ke ayam tetapi juga ke hewan ternak lainnya, termasuk sapi perah.
“Para peternak unggas diingatkan bahwa praktik biosekuriti di peternakan sangat penting untuk melindungi kesehatan unggas mereka,” kata Sam Hamilton, penjabat Kepala Dokter Hewan Australia, dalam pernyataan setelah deteksi terbaru tersebut.
Masyarakat di Australia telah diimbau untuk melaporkan setiap unggas yang sakit atau mati yang mereka temui, serta menghindari menyentuh atau berinteraksi dengan unggas tersebut.
(bbn)





























