“Kami sangat menghargai komitmen rekan-rekan kami dari Rusia dan menyambut baik berbagi pengalaman mereka mengenai kerangka regulasi, yang memberikan masukan berharga dalam pengembangan kerangka regulasi Indonesia untuk pemanfaatan energi nuklir secara damai, khususnya untuk PLTN terapung,” kata Plt Ketua Bapeten Zainal Arifin dalam siaran pers, Jumat (3/7/2026).
Adapun, Kepala Kantor Rosatom di Indonesia Anna Belokoneva menyatakan perusahaan bakal memenuhi seluruh syarat yang ditetapkan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan keselamatan nuklir, keamanan nuklir, dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Lokakarya kami telah menjadi wadah yang efektif untuk dialog terbuka, yang mempertemukan perwakilan industri nuklir Rusia dan lembaga-lembaga pemerintah Indonesia utama yang terlibat dalam pengembangan sektor nuklir negara ini,” ujar Belokoneva.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Rosatom Corp Alexey Likhachev menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada hari ini, Selasa (12/5/2026).
BUMN nuklir Rusia tersebut membahas rencana kerja sama pengembangan PLTN dengan Prabowo.
Selain rencana pengembangan PLTN, Rosatom dengan Prabowo turut membahas ihwal pengembangan infrastruktur nuklir, pelatihan sumber daya manusia (SDM), hingga aplikasi nonenergi dari teknologi nuklir.
“Bagi kami, sangat penting bahwa dialog antara Rusia dan Indonesia di bidang nuklir berkembang dalam suasana saling percaya dan saling menghormati. Saat ini, Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk pengembangan energi nuklir,” kata Likhachev dalam siaran pers, Selasa (12/5/2026).
Lebih lanjut, Likhachev menyatakan Rosatom siap menawarkan Indonesia untuk bekerja sama dalam pengembangan PLTN skala besar maupun proyek reaktor modular kecil dan unit pembangkit terapung.
Selain itu, Likhachev bersama Prabowo dan pejabat negara lainnya juga memberikan perhatian khusus pada integrasi energi nuklir ke dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia, dengan mempertimbangkan karakteristik geografis negara kepulauan.
Sekadar catatan, Rosatom sempat mengajukan dua proposal pembangunan PLTN di Indonesia dalam pertemuan antarperwakilan bisnis RI-Rusia medio April 2025.
Proposal itu disampaikan Kepala Perwakilan Rosatom di Indonesia Anna Belokoneva dalam Pertemuan Sidang Komisi Bersama ke-13 antara Indonesia dan Rusia di Jakarta pada 14 April 2025.
Opsi pertama, perusahaan pembangkit nuklir asal Rusia itu mengajukan pembangunan reaktor modular kecil atau small modular reactor (SMR) di daerah pedalaman dan PLTN dengan skala besar.
Untuk PLTN modular kecil, Rosatom akan membangunnya di Kalimantan Barat dengan kapasitas 3x110 MW.
Unit I akan dibangun pada 2032, unit II pada 2033, dan unit III dibangun pada 2035. Biaya rata-rata listrik atau levelized cost of energy (LCOE) dari pembangkit ini sekitar US$85 per megawatt/hour (MWh) sampai US$95 per MWh.
Untuk PLTN skala besar, Rosatom akan membangun dua PLTN di Bangka Belitung dengan kapasitas 2x1.200 MW.
Sementara itu, di Kalimantan Selatan dengan kapasitas yang sama yakni 2x1.200 MW. Dengan demikian, LCOE untuk dua pembangkit skala besar ini di rentang US$65 per MWh sampai dengan US$75 per MWh.
Adapun, Rosatom berencana membangun dua PLTN skala besar tersebut secara bertahap pada 2037 hingga 2040 untuk keempat pembangkit nuklir tersebut, dibagi ke dalam empat tahapan.
Opsi kedua, Rosatom mengusulkan untuk membangun PLTN terapung di Kalimantan Barat dengan kapasitas 2x110 MW.
PLTN tersebut akan dibangun pada 2030 dan 2031. Adapun, tarif listrik diperkirakan di rentang US$150 per MWh sampai dengan US$190 per MWh.
Selain itu, Rosatom juga mengusulkan untuk membangun dua PLTN skala besar di Bangka Belitung dan Kalimantan Selatan dengan kapasitas masing-masing 2x1.200 MW.
PLTN tersebut akan dibangun secara bertahap mulai pada 2037 untuk unit I, 2038 untuk unit II, 2039 untuk unit III, dan 2040 untuk unit IV.
Rosatom mengajukan perkiraan tarif listrik untuk pembangkit yang disebut terakhir sekitar US$65 per MWh sampai dengan US$75 per MWh.
Kedua proposal pengembangan nuklir yang disampaikan Rosatom itu memiliki kapasitas terpasang mencapai 5 gigawatt (GW) sampai dengan 2040.
(azr/wdh)































