“Masih akan diharmonisasikan antara DJP dengan BKPM,” tegasnya.
Adapun, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan sejumlah pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel mulai tidak menerima insentif perpajakan berupa pembebasan pajak penghasilan (PPh) badan atau tax holiday.
Ketua Komite Tambang dan Minerba Bidang ESDM Apindo Hendra Sinadia menjelaskan kondisi tersebut terjadi lantaran Indonesia sudah resmi menerapkan aturan GMT sebesar 15% untuk Tahun Pajak 2025 yang artinya dimulai tahun ini.
Hendra menyatakan efektivitas tax holiday menjadi berkurang lantaran saat ini insentif itu hanya menyasar perusahaan multinasional dengan omzet di atas ambang batas yang ditentukan.
Akan tetapi, dia menegaskan kebijakan libur pajak masih bisa dimanfaatkan segelintir perusahaan smelter.
“Tax Holiday 0% secara formal masih berlaku. Namun, sejak penerapan aturan GMT 15% berdasarkan Pilar 2 OECD, efektivitas tax holiday memang berkurang bagi grup perusahaan multinasional dengan omzet global di atas ambang batas yang ditentukan,” kata Hendra ketika dihubungi, awal Juni.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan pabrik baterai terintegrasi garapan konsorsium CATL bakal diresmikan akhir Juli 2026.
Bahlil menyatakan proyek tersebut telah rampung dibangun, sehingga siap untuk segera diresmikan. Hal tersebut diungkapkan usai dirinya menghadiri rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Kendati begitu, Bahlil tak mengungkapkan apakah pabrik tersebut bakal diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto atau tidak.
“Kami juga melaporkan Bapak Presiden bahwa program hilirisasi kita untuk ekosistem baterai mobil yang kerja sama antara CATL dan Antam itu sudah selesai dan insyaallah akan diresmikan nanti di bulan Juli akhir. Itu sudah selesai,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (22/6/2026).
Adapun, IBC bekerja sama dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, Lygend (CBL) untuk membentuk perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), dalam menggarap pabrik baterai mobil listrik terintegrasi tersebut.
CATIB saat ini sedang membangun fasilitas produksi sel baterai, modul, dan paket baterai untuk kendaraan EV dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) pada fase pertama dan akan diekspansi hingga mencapai kapasitas total 15 GWh pada fase kedua.
Proyek tersebut dibangun di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Kabupaten Karawang dengan total luas 43 hektare (ha) yang terdiri atas dua fasilitas utama, yakni module & pack (MP) plant dan cell plant.
Proyek rakitan baterai kendaraan listrik itu menjadi bagian hilir dari kesepakatan kerja sama CATL bersama dengan IBC, yang belakangan disebut dengan Proyek Dragon.
Investasi raksasa baterai China itu pada Proyek Dragon dilakukan lewat CBL, usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
Proyek Dragon diperkirakan menelan investasi US$6 miliar atau sekitar Rp98,58 triliun.
Belakangan, IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandantangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai setrum itu dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk tiga usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham, sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selanjutnya, usaha patungan di sisi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau high pressure acid leach (HPAL).
Selanjutnya, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang.
IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini.
IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
(azr/wdh)





























