Logo Bloomberg Technoz

PLN kemudian melakukan pemetaan tumpang tindih (overlay) dengan peta jaringan transmisi dan gardu induk yang ada. Hasilnya, sekitar 8.500 ha atau setara 8,5 GW lahan dinilai siap untuk segera digunakan dalam pembangunan PLTS plus baterai.

"Ditambah juga ada pembangunan PLTS dengan basis di waduk-waduk yaitu sebesar 10.000 hektare. Ini hanya di Pulau Jawa saja artinya akan menambah 10 GW," kata Darmawan.

Langkah serupa juga akan diterapkan di luar pulau utama untuk menghapus penggunaan energi fosil.

"Kemudian khusus ini kami juga membangun PLTS plus BESS baik itu di Pulau Bali maupun di Pulau Madura untuk mengurangi sistem yang saat ini masih juga, masih mengkonsumsi bahan bakar minyak," imbuhnya.

Adapun, PLN telah menyusun target penambahan kapasitas kelistrikan bersih ini secara bertahap dalam kurun empat tahun ke depan.

Berdasarkan rencana korporasi, penambahan kapasitas akan dimulai pada 2027 sebesar 4,6 GW, disusul 4,4 GW pada 2028.

Selanjutnya, pada2029, PLN akan melakukan percepatan lelang pembangkit besar yang masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebesar 2,7 GW, dan ditutup dengan penambahan 2,4 GW pada 2030.

Di akhir penjelasannya, Darmawan mengingatkan pentingnya dukungan penyediaan lahan dari pemerintah. Biaya pembebasan lahan yang tinggi dipastikan akan langsung mengerek tarif listrik yang dihasilkan.

"Kami mengakui bahwa penggunaan PLTS dengan BESS ini itu sangat sensitif sekali dengan lahan. Jadi begitu harga lahan itu per meternya 200.000 per meter, itu peningkatan harga listriknya adalah sekitar 1 sen per kWh. Jadi kalau harga lahannya 600.000 per meter itu nambahnya 3 sen per kWh," pungkas Darmawan.

Sebelumnya, terkait PLTS, Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan pembangunan berkapasitas 100 GW. Target ini sangat masif, melonjak drastis dari kapasitas saat ini yang baru mencapai sekitar 1,5 GW.

Target ini diungkap Prabowo sebagai langkah mempercepat program listrifikasi nasional melalui pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 GW.

Program tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong percepatan transisi menuju energi bersih.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan arahan dalam acara tasyakuran HUT ke-1 Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

“Kita akan melaksanakan listrifikasi, energi terbarukan dari tenaga surya. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita akan membangun 100 gigawatt. Itu sudah perintah saya, itu sudah keputusan saya. Dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa kita lebih cepat dan efektif dalam hal ini,” ujar Prabowo.

Menurut Prabowo, Indonesia memiliki berbagai sumber daya energi yang melimpah dan dapat dimanfaatkan untuk mencapai kemandirian energi. Selain potensi tenaga surya, Indonesia juga memiliki cadangan energi panas bumi yang sangat besar.

“Kita punya geothermal yang sangat besar, kalau tidak salah kedua cadangan terbesar di dunia, yang belum dieksploitasi sepenuhnya,” kata Prabowo.

Adapun, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P Hutajulu menyebut pemerintah terus mematangkan target proyek PLTS 100 gigawatt ini.

Jisman menambahkan bahwa pada tahap pertama, pemerintah menargetkan proyek dibangun sebesar 17 GW.

“Komitmen pemerintah menuju pemerataan energi terbarukan di tempat terpencil. Mulai dari pengembangan PLTS 100 GW. Pak Rizal [Direktur Manajemen Pembangkitan PLN] kita sudah sampaikan, tahap awal adalah 17 GW,” ungkap Jisman dalam agenda Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta, Rabu (20/05/2026).

Jisman mengungkap bahwa dibandingkan dengan pembangkit lain, PLTS dinilai tidak memiliki teknologi yang terlalu kompleks atau rumit, sehingga target 17 GW tahap pertama dirasa bisa tercapai.

“Rasanya sih saya yakin, kami juga membuka peluang sebesar-besarnya pada pengusaha muda Indonesia untuk berinvestasi [dalam PLTS)]," katanya.

Di sisi lain, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary mengatakan target 17 GW tahap pertama PLTS dibidik selesai secepatnya. Meski begitu, Rizal menambahkan PLN menargetkan tahap pertama ini bisa selesai pada tahun 2028 mendatang.

“Pada 2028, tetapi kalau bisa secepatnya,” ujar Rizal saat ditemui. 

Dia juga menyakinkan bahwa listrik yang berasal dari PLTS 100 GW ini 100% akan diserap oleh PLN dengan harga US$6 per kWh. 

“Harganya kemarin 6 dolar per kWh, dan mereka [produsen PLTS] udah oke,” katanya.

(smr/wdh)

No more pages