Logo Bloomberg Technoz

"Penyakit ini memengaruhi mata pencaharian, pendidikan, ketahanan pangan, perdagangan, keuangan publik, dan kepercayaan masyarakat."

Epidemi ini disebabkan oleh strain Bundibugyo dari virus Ebola, yang hingga kini belum memiliki vaksin yang disetujui maupun pengobatan khusus untuk virus tersebut. Para pejabat mengandalkan diagnosis cepat, pelacakan kontak, perawatan klinis suportif, serta pelibatan masyarakat untuk menghentikan penularan.

Ebola Cases Mount in Eastern Democratic Republic of Congo. (Sumber: National Institute of Public Health, Democratic Republic of Congo)

Wabah tersebut terus menguji upaya untuk mengendalikan penyebaran virus.

Otoritas kesehatan pekan ini mengonfirmasi bahwa sejumlah orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien Ebola melakukan perjalanan ke Provinsi Haut-Uélé di Republik Demokratik Kongo, yang berbatasan dengan Sudan Selatan. Perkembangan ini memicu kekhawatiran bahwa virus dapat menyebar melampaui tiga provinsi yang secara resmi terdampak wabah.

Secara terpisah, jenazah seorang perempuan hamil yang meninggal akibat Ebola diangkut dengan sepeda motor sejauh lebih dari 180 mil (sekitar 290 kilometer) ke Provinsi Tshopo sebelum penyakit tersebut terdiagnosis. Akibatnya, pejabat kesehatan kini melacak orang-orang yang kemungkinan terpapar virus setelah keberadaan Ebola dikonfirmasi di sebuah kamar jenazah di ibu kota provinsi, Kisangani, menurut laporan Reuters.

Kasus di Haut-Uélé dan Tshopo yang ditelusuri berasal dari infeksi di Nia-Nia, sebuah kota di bagian barat laut Provinsi Ituri, kata pejabat Republik Demokratik Kongo pada Rabu.

Ituri masih menjadi episentrum wabah, dengan menyumbang lebih dari 90% dari seluruh kasus infeksi yang telah dikonfirmasi. Meningkatnya jumlah kasus pun semakin membebani upaya penanganan.

Fasilitas perawatan di provinsi tersebut kini beroperasi melampaui kapasitasnya. International Medical Corps menyatakan bahwa pusat perawatan Ebola berkapasitas 60 tempat tidur yang dikelolanya di Bunia saat ini merawat 75 pasien yang terkonfirmasi maupun diduga terinfeksi Ebola, dan sedang memperluas kapasitas menjadi 80 tempat tidur.

Pos pemeriksaan yang sedang dibangun di utara Bunia dibakar oleh orang tak dikenal pada Minggu malam, sementara lima pasien melarikan diri dari fasilitas isolasi sebelum menyelesaikan pengobatan atau menjalani pemeriksaan, menurut laporan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional yang dirilis pada Rabu.

Petugas kesehatan juga tengah berupaya memantau hampir 12.000 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien Ebola di berbagai provinsi yang terdampak wabah.

Upaya penanganan wabah berlangsung di kawasan tempat lebih dari 260 kelompok bersenjata beroperasi dan sekitar 5,8 juta orang mengungsi. Kondisi tersebut mempersulit pelacakan kontak, meningkatkan risiko kekerasan terhadap tenaga kesehatan, serta mengikis kepercayaan masyarakat terhadap upaya kesehatan masyarakat, menurut laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).

Daily admissions and patients in Ebola isolation since June 1. (Sumber; National Institute of Public Health, Democratic Republic of Congo)

Hambatan operasional tersebut membawa konsekuensi ekonomi yang lebih luas. UNDP memperkirakan wabah ini dapat memangkas output ekonomi Republik Demokratik Kongo sekitar 1,6%, menghilangkan 55.000 lapangan kerja, serta mendorong sekitar 985.000 orang tambahan jatuh ke dalam kemiskinan.

Wabah ini juga berpotensi mengalihkan sumber daya layanan kesehatan dari pelayanan rutin, sehingga dapat menyebabkan hingga 2.520 tambahan kematian bayi akibat penyebab yang tidak berkaitan dengan Ebola.

Menurut Bank Dunia, nilai perekonomian Republik Demokratik Kongo mencapai sekitar US$91 miliar pada 2025.

Sebagian besar kerugian ekonomi diperkirakan berasal dari gangguan terhadap transportasi, perdagangan informal, investasi, dan kepercayaan konsumen, bukan semata-mata akibat dampak langsung penyakit itu sendiri, menurut laporan UNDP. Perempuan diperkirakan akan menanggung beban yang tidak proporsional karena mereka mendominasi perdagangan lintas batas di sektor informal, sekaligus berperan sebagai tenaga kesehatan di garis depan dan pengasuh keluarga.

Beban otoritas kesehatan di kawasan itu semakin bertambah pekan ini setelah satu kasus fatal virus Marburg, penyakit virus yang masih berkerabat dengan Ebola, terdeteksi di Uganda pada seorang anak kecil ketika otoritas sedang melakukan pengawasan terhadap Ebola.

Sejauh ini, tidak ada orang yang melakukan kontak dengan pasien tersebut yang dilaporkan mengalami gejala, dan tidak ditemukan bukti adanya wabah aktif virus Marburg.

(bbn)

No more pages