“Ketika kedua mandat tersebut dipadukan, yang kita bangun bukan sekadar hubungan antarperusahaan, melainkan kemitraan yang memperkuat ekosistem industri nasional, meningkatkan daya saing industri, serta mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Rahmad.
Dia berharap, kerja sama dengan Pertamina dapat meningkatkan nilai tambah pada lini usaha pupuk dan petrokimia.
“Untuk itu, sinergi antara Pertamina dan Pupuk Indonesia merupakan langkah penting untuk mengintegrasikan kekuatan kedua perusahaan dalam menjawab tantangan,” kata Rahmad.
Sekadar informasi, sulfur yang menjadi salah satu bahan baku pupuk diproduksi dari pengolahan minyak dan gas bumi dan dapat diekstrasi menggunakan proses frasch.
Selain itu, sulfur juga dapat diproduksi dari residu industri pertambangan, atau pengolahan minyak dan gas.
Pertamina memproduksi sulfur di Refinery Unit IV Cilacap. Kilang Cilacap tercatat mampu memproduksi sulfur dengan kapasitas 8.000 ton per tahun.
Adapun, pupuk sempat menjadi komoditas yang rawan akibat ketegangan di Selat Hormuz. Dalam laporan Bloomberg News, sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia atau sekitar 16 juta ton melewati Selat Hormuz.
Akibatnya, harga pupuk pun membumbung tinggi. Harga pupuk urea pada 26 Maret mencapai US$695/ton. Ini menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2022 atau sekira 3,5 tahun terakhir.
Produksi dari Pupuk Indonesia adalah 14,65 juta ton/tahun. Sementara itu, konsumsi mencapai sekitar 23 juta ton/tahun.
Artinya, sekitar 36% kebutuhan pupuk masih harus didatangkan dari luar negeri alias impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor pupuk Indonesia pada 2025 adalah 8,36 juta ton, naik 11,02% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pupuk Indonesia sebelumnya memastikan memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk bagi petani, dengan kapasitas produksi saat ini.
Saat ini, perseroan memperoleh pasokan bahan baku untuk pupuk NPK, fosfat (P) dari negara di kawasan Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) berasal dari Kanada dan Laos.
Sementara itu, bahan baku lain seperti sulfur (S) memang berasal dari negara Timur Tengah seperti Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.
Namun, bahan baku tersebut masih bisa didapat dari negara kawasan Eurasia seperti Kazakhstan hingga Uzbekistan.
(azr/wdh)





























