"Kami akan mewujudkan stabilitas harga di AS, itulah komitmen yang telah ditandatangani oleh komite ini, dan tujuan kami adalah mencapainya," tegas Warsh. "Mengenai taktik, strategi, dan aspek lainnya, hal itu akan menyusul kemudian."
Independensi The Fed
Dalam kesempatan tersebut, Warsh juga menggarisbawahi independensi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter, di tengah derasnya desakan dari Donald Trump yang secara konsisten meminta pemangkasan suku bunga acuan.
"Kami telah menjadi bank sentral yang independen sejak lama. Kami akan tetap menjadi bank sentral yang independen pada saat ini, dan Anda tidak akan melihat adanya perubahan terkait hal itu," ujarnya dalam sebuah sesi diskusi panel di konferensi ECB tersebut.
Warsh kembali menegaskan bawha dirinya tidak memberikan petunjuk kebijakan di masa depan (forward guidance) terkait arah suku bunga acuan berikutnya. Saat ditanya secara spesifik apakah opsi kenaikan suku bunga akan dibahas dalam pertemuan bulan ini, ia berseloroh bahwa moderator panel sedang "berusaha membuat saya melanggar aturan ini" terkait penolakan memberikan panduan ke depan. "Dia akan gagal."
"Kami akan memetakan arah baru," kata Warsh. "Saya ingin kami melakukan perdebatan yang produktif saat kami bertemu dalam empat minggu ke depan," imbuhnya, merujuk pada agenda pengambilan keputusan kebijakan moneter berikutnya.
Tanpa 'Forward Guidance'
Dalam konferensi pers perdananya bulan lalu, Warsh sempat menyampaikan bahwa para pembuat kebijakan di The Fed telah sepakat bahwa metode forward guidance "sudah tidak cocok lagi dengan situasi kebijakan saat ini."
"Pada konferensi pers lalu, saya katakan kami tidak akan memberikan forward guidance karena kami baru akan bertemu enam minggu lagi," ungkap Warsh saat berbicara di panel bersama para pemimpin bank sentral terkemuka lainnya. "Sekarang saya punya pembaruan informasi untuk Anda," tambahnya, seraya mengingatkan bahwa pertemuan terjadwal pada 28-29 Juli mendatang kini tinggal empat minggu lagi.
Meski para pejabat Fed memilih untuk menahan suku bunga acuan pada bulan lalu, mereka memberikan sinyal kuat mengenai peningkatan dukungan terhadap opsi kenaikan suku bunga tahun ini, menyusul laju inflasi yang bergerak di level tercepatnya sejak tahun 2023. Pembaruan proyeksi untuk suku bunga acuan The Fed menunjukkan bahwa separuh dari 18 pejabat memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga tahun ini, walaupun Warsh sendiri menolak untuk memberikan perkiraan pribadi.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan lalu memberikan suara bulat untuk mempertahankan target suku bunga acuan federal (Federal Funds Rate) di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Di sisi lain, para investor kini mulai memperhitungkan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun nanti.
Satuan Tugas Baru
Terkait pertanyaan apakah The Fed akan menghentikan praktik forward guidance secara permanen, Warsh pada Juni lalu telah mengumumkan pembentukan lima satuan tugas (satgas), di mana salah satunya khusus memeriksa sektor komunikasi. Sementara satgas lainnya mencakup bidang neraca keuangan, pemanfaatan data oleh The Fed, produktivitas dan lapangan kerja, serta kerangka kerja inflasi bank sentral.
Saat berbicara di panel, Warsh menyebutkan kemungkinan besar akan ada pengumuman resmi pekan depan mengenai susunan keanggotaan satgas tersebut. Ia membocorkan bahwa para partisipan yang terlibat akan mencakup para pakar eksternal, termasuk beberapa individu dari luar AS.
Ketika disinggung soal neraca keuangan The Fed yang saat ini menyentuh angka US$6,7 triliun—posisi yang masih jauh di atas angka sebelum era pandemi Covid—Warsh berujar bukan rahasia lagi bahwa sejak dulu dirinya lebih menyukai portofolio yang lebih ramping. Namun, setiap perubahan kebijakan ke depan merupakan keputusan bersama FOMC dan akan "diperdebatkan dengan matang secara terbuka di publik." Ia juga menambahkan bahwa proses merampingkan ukuran neraca tersebut akan memakan waktu lebih dari 18 minggu.
Beralih ke sektor kecerdasan buatan (AI), Warsh menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah gelombang investasi besar-besaran di sektor tersebut saat ini ikut memicu inflasi secara luas. Secara fundamental, ia memproyeksikan teknologi baru ini pada akhirnya justru akan mendorong lonjakan dari sisi penawaran yang mengerek produktivitas. Bagaimana AI memengaruhi lanskap perekonomian diprediksi akan terlihat lebih jelas dalam beberapa bulan ke depan.
"Meskipun kita mungkin melihat survei bisnis saat ini mengatakan 'bukan masalah besar,' dugaan saya enam bulan dari sekarang hasil surveinya akan menunjukkan hal yang sebaliknya," pungkas Warsh. "Kita baru berada di babak pertama atau kedua dari revolusi ini. Ini adalah sebuah pergeseran paradigma yang besar."
(bbn)






























