“Sedangkan tiga negara penyumbang defisit terdalam baik migas maupun nonmigas, yang pertama Tiongkok defisit atau minus US$10,17 miliar US. Australia defisit atau minus US$3,99 miliar dan juga Singapura defisit US$3,83 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (1/7/2026).
Ateng menyebut neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah. Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus US$2,15 miliar dengan komoditas penyumbang surplus dari bahan bakar mineral; lemak dan minyak hewan nabati; besi dan baja.
Neraca perdagangan secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2026 surplus sebesar US$4,03 miliar. Surplus sepanjang Januari-Mei 2026 terutama ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar US$16,31 miliar sementara itu komoditas migas mengalami defisit sebesar US$12,28 miliar.
Komoditas nonmigas penyumbang surplus untuk Januari-Mei 2026 adalah lemak dan minyak hewan nabati (US$ 13,92 miliar); bahan bakar mineral (US$ 10,88 miliar); besi dan baja (US$ 7,09 miliar); nikel dan barang daripadanya (US$ 5,36 miliar); dan alas kaki (US$ 2,72 miliar).
Sedangkan komoditas nonmigas penyumbang defisit adalah mesin dan peralatan mekanis (US$ 12,74 miliar); mesin dan perlengkapan elektrik (US$ 6,23 miliar); plastik dan barang dari plastik (US$ 3,74 miliar); serealia (US$ 1,62 miliar); instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis (US$ 1,56 miliar).
(lav)


























