“Kita sedang memasuki era di mana halaman berganti dalam sekejap mata,” katanya, sambil menjanjikan dukungan pemerintah untuk membangun ekosistem AI dengan cepat. “Kecepatan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.”
Skala pengeluaran teknologi Korea Selatan ini menegaskan keinginan mendesak pemerintah untuk mempertahankan keunggulan negara dalam chip memori yang krusial bagi AI, sekaligus memastikan keamanan nasional jangka panjang. Hal ini juga akan menjadi dorongan besar bagi perekonomian jika berkelanjutan: dengan nilai sekitar US$880 miliar, investasi kolektif yang direncanakan tersebut mewakili sekitar 5% dari PDB Korea Selatan tahun 2024, menurut data Bank Dunia.
Pengeluaran untuk pembuatan chip saja mencapai sekitar 80 triliun won atau sekitar US$52 miliar per tahun. Pada tahun 2021, pemerintahan Moon Jae-in mengumumkan cetak biru investasi serupa yang dipimpin oleh sektor swasta dan didukung oleh Samsung dan Hynix untuk menghabiskan US$450 miliar selama satu dekade untuk penelitian dan produksi semikonduktor. Secara lebih luas, pada tahun 2023, pemerintah Seoul merancang rencana senilai US$400 miliar untuk pembiayaan di berbagai sektor yang jauh lebih luas, termasuk kendaraan listrik atau EV dan bioteknologi.
Secara historis, pemerintah Seoul telah memainkan peran besar dalam menyatukan sektor swasta secara ekonomi, sebagian dengan iming-iming insentif dan dukungan kebijakan. Pemerintah pada hari Senin membahas dukungan terhadap upaya tersebut melalui infrastruktur, termasuk proyek air dan listrik, namun tidak mengungkapkan kebijakan atau alokasi anggaran yang spesifik.
Untuk 2026, Samsung telah mengumumkan rencana untuk mengucurkan dana lebih dari US$70 miliar guna perluasan kapasitas produksi dan penelitian. Namun, jika dilanjutkan dalam jangka panjang, jumlah kumulatifnya akan mendekati angka yang sangat fantastis yang dianggarkan oleh perusahaan hyperscaler seperti Microsoft Corp. serta negara tetangga China, yang sedang menyusun rencana investasi lima tahun senilai US$295 miliar.
Indeks acuan Kospi berhasil memulihkan sebagian besar kerugiannya setelah rencana investasi tersebut diumumkan. Saham Samsung turun hampir 5% pada penutupan pasar, sementara SK Hynix ditutup turun 1,7%, melanjutkan penurunan yang terjadi pada hari Jumat. Walau permintaan yang sangat tinggi terhadap chip memori akibat perkembangan AI telah mendorong kenaikan saham kedua produsen chip tersebut, pertanyaan tetap muncul mengenai keberlanjutan laba seiring dengan memanasnya persaingan dan upaya produsen chip untuk meningkatkan pasokan.
“Pengumuman ini memiliki dua sisi: di satu sisi menandakan keyakinan terhadap permintaan jangka panjang, namun di sisi lain juga meningkatkan risiko kelebihan pasokan di masa depan,” kata Uday Vikram, co–CIO di Klay Group yang berbasis di Singapura.
“Akan tetapi, dalam jangka panjang, kami melihat investasi ini sebagai hal yang positif secara keseluruhan, asalkan permintaan memori tetap kuat. Secara keseluruhan, kapasitas tambahan ini memperkuat kepemimpinan Korea dalam rantai pasokan.”
Korsel telah muncul sebagai salah satu negara yang paling diuntungkan dari booming AI, namun kekhawatiran semakin meningkat bahwa manfaat tersebut belum didistribusikan secara merata di seluruh negeri. Tingkat dukungan untuk Presiden Lee telah turun ke level terendah sejak ia menjabat setahun lalu, menurut jajak pendapat Gallup Korea yang menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan terhadap penanganan Lee terhadap perekonomian, melemahnya nilai tukar won, dan kebijakan perumahan.
Samsung dan SK Hynix — dua produsen memori terbesar di dunia — telah mempercepat investasi untuk mengimbangi permintaan. Pengumuman pada hari Senin ini muncul setelah produsen gadget, termasuk Apple Inc., menaikkan harga produk mereka dengan alasan keterbatasan pasokan chip memori. Para eksekutif industri, termasuk bos SK Group Chey Tae-won, mengatakan bahwa krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mungkin akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan.
Samsung juga berencana mempercepat pembangunan pabrik di wilayah metropolitan Seoul, kata Executive Chairman Jay Y. Lee dalam konferensi pers tersebut. “Ini adalah kompetisi melawan waktu,” katanya.
Gwangju di wilayah barat daya akan dikembangkan sebagai pusat manufaktur memori baru, sementara Cheonan dan Onyang akan berfungsi sebagai pusat pengemasan HBM, katanya. Perusahaan ini juga berencana berinvestasi dalam penerapan robot humanoid di pabrik-pabriknya di Gumi, Provinsi Gyeongsang Utara.
Presiden Lee telah berupaya mengarahkan investasi strategis di luar ibu kota Seoul untuk menumbuhkan mesin pertumbuhan baru dan lapangan kerja dengan gaji tinggi dalam perekonomian regional.
“Sejarah perkembangan Korea Selatan merupakan kisah pencapaian yang gemilang, sekaligus proses penumpukan ketimpangan dan diskriminasi yang parah,” kata Lee dalam sebuah postingan di X pada hari Minggu. “Kini saatnya bagi semua pihak untuk bekerja sama dan menggabungkan kebijaksanaan mereka dalam skala besar guna mencapai tujuan kelangsungan hidup bangsa, yaitu mengurangi konsentrasi penduduk di wilayah ibu kota dan mendorong pembangunan nasional yang seimbang.”
Di luar Seoul, pemerintah di seluruh dunia menawarkan dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi industri chip dalam negeri mereka, dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional.
AS telah mengalokasikan puluhan miliar dolar melalui Undang-Undang CHIPS dan Sains untuk memperluas manufaktur semikonduktor, sementara China terus mengalirkan dana yang didukung negara untuk membangun ekosistem chip yang mandiri di tengah meningkatnya pembatasan teknologi.
Jepang juga telah secara drastis meningkatkan subsidi untuk menghidupkan kembali sektor semikonduktornya, dengan mendukung investasi oleh perusahaan domestik dan produsen asing termasuk Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC).
Citigroup mengatakan dalam sebuah catatan bahwa investasi besar-besaran yang dipimpin oleh pemerintah Korea Selatan seharusnya dapat mendorong pertumbuhan rantai pasokan semikonduktor negara tersebut, termasuk sektor peralatan chipnya. Perusahaan tersebut optimis terhadap perusahaan-perusahaan peralatan pembuatan chip Korea Selatan, didukung oleh “prospek permintaan AI yang menjanjikan dan rencana perluasan kapasitas green-field yang dipercepat,” kata dia.
“Arahnya benar-benar tepat. Namun, membangun pabrik chip mutakhir bukan sekadar soal mengeluarkan uang. Anda membutuhkan listrik, air, tenaga ahli, dan modal—dan yang terpenting, kemampuan untuk melaksanakannya,” kata Kim Joungho, profesor teknik elektro di KAIST.
(bbn)






























