Logo Bloomberg Technoz

Namun, rupiah juga masih dibayangi oleh kombinasi defisit transaksi berjalan yang lebih besar, dan defisit fiskal yang melebar menciptakan apa yang disebut banyak ekonom dan analis sebagai twin deficits

Defisit anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan melebar menjadi 2,9% terhadap PDB, dibanding 2025 di level 2,6%. Angka ini memang masih berada di bawah batas legal 3%, tetapi menunjukkan bahwa ruang fiskal pemerintah kian terbatas. 

Selain itu, pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama tetap bertahan di level 101,18 dan membawa pergerakan yang beragam bagi mata uang kawasan, termasuk rupiah. 

Dari zona hijau, ringgit Malaysia menguat paling tajam 0,37%. Disusul yuan offshore, baht Thailand, dan yuan China.

Sebaliknya, won Korea Selatan melemah paling dalam 0,47%, disusul peso Filipina 0,16%, yen Jepang, dolar Taiwan, dan dolar Singapura. 

Mata uang Asia. (Bloomberg)

Pelemahan won terjadi lantaran aksi jual besar-besaran investor asing di pasar saham Korea Selatan terjadi sejak awal tahun hingga Jumat pekan lalu, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih saham di indeks KOSPI sebesar KRW136,78 triliun. Begitu juga di pasar obligasi Korea Selatan, investor tercatat menjual kepemilikannya senilai US$15,4 juta pada 26 Juni. 

Sementara, penguatan ringgit Malaysia tertopang oleh masuknya investor yang membukukan pembelian bersih saham Malaysia sebesar US$13,6 juta pada perdagangan kemarin (29/6/2026). 

Bagi rupiah, pergerakan pekan ini akan sangat ditentukan oleh rilisnya sejumlah data ekonomi sepanjang pekan ini. Besok, Badan Pusat Statistik (BPS) akan melaporkan data inflasi, yang menurut survei Bloomberg berada di median estimasi 3,2%. 

Angka ini relatif terkendali dan masih berada di rentang target Bank Indonesia di 1,5%-3,5%, meski naik dari posisi sebelumnya 3,08%. Pasar telah pricing in bahwa inflasi telah mencapai puncaknya, sehingga pada kuartal selanjutnya relatif lebih melandai, terlebih dengan kondisi harga minyak yang mulai jinak di level US$72,53 per barel. 

Sementara, capaian ekspor diperkirakan 4%, dan impor berada di 18,51% berdasarkan median estimasi yang dihimpun dari 15 orang ekonom dan analis. 

(dsp/aji)

No more pages