"Saham China telah menjadi beban utama bagi portofolio kami sepanjang tahun berjalan ini," kata Gerald Gan, Chief Investment Officer di Reed Capital. "Kami memegang saham seperti Tencent dan Alibaba, tetapi kinerja mereka sangat buruk. Divergensi performa di antara negara-negara ekonomi utama saat ini terlampau lebar dan benar-benar mengecewakan."
Penyebab kemerosotan ini sangat kompleks dan terus berlanjut. Tingkat konsumsi masyarakat di China terus melemah, sehingga menggerus laba perusahaan internet maupun produsen otomotif. Selain itu, preferensi investor yang lebih memilih produsen cip ketimbang perusahaan penyedia layanan komputasi awan skala besar dalam tren boooming AI saat ini, membuat China berada di posisi yang tidak menguntungkan akibat minimnya produsen perangkat keras terkemuka di dalam negeri. Ditambah lagi, tindakan tegas Beijing baru-baru ini terhadap aliran modal lintas batas memicu pengawasan yang lebih ketat terhadap investasi di Hong Kong, dan kembali menghidupkan kekhawatiran atas risiko regulasi.
Pembalikan arah ini terasa sangat kontras mengingat terobosan AI China tahun lalu, terutama melalui DeepSeek, yang sempat menarik kembali investor asing ke pasar ekuitas mereka sekaligus menghapus label "tidak layak investasi" (uninvestable).
"Saya cukup sedih karena memiliki saham Alibaba di portofolio saya," ujar Chauwei Yak, Chief Executive Officer GAO Capital Pte di Singapura. "Yang lebih menyedihkan lagi adalah satu-satunya negara yang kinerjanya lebih buruk dari China hanyalah Indonesia. China adalah negara yang sangat tinggi teknologinya, namun satu-satunya negara yang bisa mereka kalahkan hanyalah negara dengan tingkat teknologi yang relatif lebih rendah dan memiliki jauh lebih banyak masalah. Saya sangat positif terhadap China tahun lalu setelah menghadiri konferensi AI di Hangzhou."
Kemerosotan ini berisiko kian mengikis kepercayaan investor global terhadap China, justru di saat perusahaan teknologi terbesarnya sedang gencar menggenjot investasi di bidang AI. Tencent Holdings Ltd berencana untuk setidaknya melipatgandakan belanja modal tahun 2026 menjadi lebih dari 36 miliar yuan (sekitar Rp94 triliun), sementara Alibaba Group Holding Ltd berkomitmen menginvestasikan 380 billion yuan selama beberapa tahun ke depan. Kerugian ini juga mengancam kelangsungan tren penawaran umum perdana saham (IPO) yang sedang marak di Hong Kong.
Kendati demikian, pasar domestik China di Shenzhen dan Shanghai dinilai sedikit lebih tangguh dalam beberapa aspek. Indeks CSI 300 tercatat naik sekitar 6% tahun ini, didorong oleh reli panas pada saham-saham produsen perangkat keras teknologi. Sayangnya, di luar sektor teknologi, keuntungan sulit diraih. Delapan dari 10 sektor industri mengalami penurunan, dengan saham sektor konsumsi ambles lebih dari 20%.
Kevin Net, Head of Asian Equities di Financière de l’Echiquier di Paris, adalah salah satu investor yang lebih memilih saham-saham China yang diperdagangkan di pasar domestik (onshore) sejak awal tahun.
"Sebagian besar tema saham yang kami sukai tercatat di bursa Shanghai dan/atau Shenzhen, seperti AI, industri, dan logam," katanya. "Apa yang Anda temukan di bursa luar negeri (offshore) adalah sektor konsumsi, internet, teknologi non-AI—yaitu sektor-sektor yang cenderung kami hindari."
Aset-aset lain yang sempat berjaya tahun lalu juga mencatatkan kinerja buruk tahun ini karena investor menggandakan taruhan mereka pada AI dengan mengalirkan dana besar-besaran ke produsen cip. Bitcoin telah merosot lebih dari 50% dari level tertingginya tahun lalu hingga di bawah level US$60.000, sementara harga emas jatuh sekitar 25% dari puncaknya di bulan Januari. Kelompok saham teknologi raksasa AS, The Magnificent Seven, seperti Apple Inc dan Alphabet Inc, juga terpangkas 6% tahun ini.
Bahkan dengan pembanding tersebut, penurunan kinerja China tetap terlihat sangat mencolok. Indeks Hang Seng Hong Kong, yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan China, pekan lalu menyentuh level terendahnya relatif terhadap Indeks Dunia MSCI All-Country sejak tahun 1990, periode di mana ukuran ekonomi China hanya sebesar 2% dari ukurannya saat ini, dan tiga tahun sebelum perusahaan China daratan pertama kali menjual saham berbentuk H-shares di Hong Kong.
Tekanan terhadap saham China kian diperberat oleh tanda-tanda memburuknya ekonomi domestik. Bulan lalu, angka penjualan ritel turun untuk pertama kalinya sejak pandemi dan penurunan harga rumah semakin cepat. Investasi aset tetap juga menyusut tahun ini. Meskipun kinerja ekspor tetap kuat ditopang oleh pertumbuhan sektor cip dan komputer, ekonomi China dipandang berisiko mengalami perlambatan yang lebih dalam karena pemerintah masih menahan diri untuk mengeluarkan kebijakan besar guna mendongkrak pengeluaran rumah tangga.
"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal kedua akan merosot ke kisaran 4,4% tahun ini, berada di bawah target pertumbuhan resmi setahun penuh," kata Larry Hu, kepala ekonomi China di Macquarie Group di Hong Kong. "Jika perdagangan AI global terus melonjak dan mengerek ekspor, pemerintah tidak akan menggelontorkan stimulus besar untuk mendongkrak konsumsi domestik, sehingga permintaan dalam negeri akan tetap lemah."
Lemahnya permintaan tersebut mulai berdampak langsung pada pendapatan korporasi. Bulan lalu, Tencent melaporkan pertumbuhan pendapatan paling lambat dalam enam kuartal terakhir, memicu kekhawatiran tentang bagaimana perusahaan akan memonetisasi AI di saat bisnis intinya seperti gim dan periklanan mulai kehilangan momentum. Sementara itu, Alibaba mencatatkan kerugian operasional kuartalan pertamanya sejak 2021 dalam laporan keuangan terbarunya.
Menambah daftar risiko, Anthropic PBC pekan lalu menuduh Alibaba melakukan upaya skala besar untuk mengakses model kecerdasan buatan "Claude" miliknya secara ilegal, dan meminta bantuan pemerintahan Trump. Awal bulan ini, Departemen Pertahanan AS juga menuduh Alibaba, Baidu Inc, dan BYD Co mendukung militer China. Tencent sendiri telah dimasukkan ke dalam daftar tersebut sejak tahun 2025.
Sanksi baru
"Risiko geopolitik dalam berinvestasi di China belum hilang," kata Manajer Portofolio Jupiter Asset Management di Singapura, Sam Konrad. "Dari sisi teknologi, pasar saham China saat ini tidak memiliki penerima manfaat utama dari belanja modal AI seperti yang dimiliki pasar saham Korea Selatan maupun Taiwan."
Langkah mendadak China memperketat pengawasan terhadap arus modal ilegal ke luar negeri juga membangkitkan kembali ingatan terhadap pengetatan regulasi terhadap sektor swasta pada 2021. Aturan baru yang diumumkan bulan lalu mencakup denda sekitar US$330 juta terhadap tiga perusahaan sekuritas yang banyak digunakan investor China daratan untuk berinvestasi di luar negeri, yakni Futu Holdings Ltd, Tiger Brokers, dan Long Bridge Securities.
Chief Investment Officer Lotus Asset Management Ltd, Hao Hong, mengatakan perusahaan-perusahaan sekuritas tersebut selama ini menjadi sumber penting aliran dana ke pasar Hong Kong, termasuk dalam penjualan saham, karena investor dapat dengan mudah mengajukan alokasi IPO melalui aplikasi di telepon genggam mereka.
"Sejak penindakan terhadap perdagangan lintas negara yang dianggap ilegal, tekanan terhadap indeks-indeks Hong Kong sangat terasa," ujarnya. "Tanpa partisipasi dana dari China daratan, IPO yang akan datang akan menjadi ujian terhadap kondisi likuiditas sesungguhnya di Hong Kong."
Sejauh ini, aktivitas penggalangan dana masih cukup tangguh. Data Bloomberg menunjukkan IPO, private placement, dan block trade di Hong Kong telah menghimpun dana hampir US$44 miliar sepanjang 2026, naik 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Risiko terbesar bagi China adalah apabila minat investor terhadap saham-saham negara tersebut terus memudar sehingga ledakan pasar tahun lalu hanya menjadi kenangan, meskipun China tetap merupakan pusat manufaktur terbesar di dunia sekaligus dikenal sebagai negara dengan teknologi maju.
Client Portfolio Manager Alphinity Investment Management di Sydney, Elfreda Jonker, mengatakan perusahaannya kini tidak lagi memiliki saham China setelah menjual kepemilikan Tencent baru-baru ini.
"Kami akan terus aktif mencari peluang investasi di China," katanya. "Namun sejauh ini kami belum menemukan peluang yang benar-benar menarik."
(bbn)




























