Kedua, apakah Bank of Korea akan menaikkan suku bunga acuannya. Ketoga, apakah arus masuk dolar AS yang diperkirakan berasal dari pencatatan American Depositary Receipt (ADR) senilai US$30 miliar milik SK hynix di bursa Nasdaq bulan depan benar-benar terealisasi.
Untuk diketahui, aksi jual besar-besaran investor asing di pasar saham Korea Selatan terjadi sejak awal tahun hingga Jumat pekan lalu, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih saham di indeks KOSPI sebesar KRW136,78 triliun. Begitu juga di pasar obligasi Korea Selatan, investor tercatat menjual kepemilikannya senilai US$15,4 juta pada 26 Juni.
Arus keluar modal tersebut meningkatkan permintaan dolar AS, sehingga mengimbangi sebagian besar aliran masuk devisa yang berasal dari surplus transaksi berjalan.
Sebaliknya, ringgit Malaysia tertopang oleh masuknya investor yang membukukan pembelian bersih saham Malaysia sebesar US$13,6 juta pada perdagangan kemarin (29/6/2026).
Setali tiga uang dengan Indonesia, penguatan rupiah tertopang oleh aksi pembelian bersih obligasi pemerintah RI sebesar US$346 juta pada 26 Juni. Namun, kemarin di pasar saham investor justru membukukan penjualan bersih sebesar US$49,4 juta.
Sentimen Domestik
Meski pergerakan rupiah relatif terjaga sejak awal pekan ini, namun pelemahan nilai tukar rupiah sejatinya berlangsung lebih dalam daripada mata uang negara-negara di kawasan.
Sejak awal kuartal kedua, rupiah telah melemah 4,78%, dan menempati sebagai mata uang terlemah di Asia, kemudian disusul yen Jepang yang melemah 2,12% dan won Korea Selatan 1,94%.
Sentimen bagi rupiah masih berkelindan seputar kombinasi defisit transaksi berjalan yang lebih besar, dan defisit fiskal yang melebar menciptakan apa yang disebut banyak ekonom dan analis sebagai twin deficits.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga dengan baik, diperkirakan tetap berada di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
Untuk diketahui, defisit anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan melebar menjadi 2,9% terhadap PDB, dibanding 2025 di level 2,6%. Angka ini memang masih berada di bawah batas legal 3%, tetapi menunjukkan bahwa ruang fiskal pemerintah kian terbatas.
Pemerintah berupaya meredam kekhawatiran pasar melalui kombinasi kebijakan fiskal dan likuiditas. Pemerintah dikabarkan telah memastikan penempatan dana senilai Rp281 triliun di perbankan, dan akan diperpanjang hingga akhir 2026, disertai kesiapan tambahan dana Rp100 triliun.
Di sisi lain pemerintah juga berupaya mempertahankan harga gas bumi tertentu bagi industri untuk menjaga daya saing sektor manufaktur dan menahan tekanan biaya produksi.
Sejak awal pekan ini, arus masuk dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) jadi penyangga utama yang setidaknya mengimbangi tekanan dari keluarnya dana asing di pasar saham.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi lanjut menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat selanjutnya pada level Rp17.800/US$, dengan potensial kedua menuju Rp17.770/US$ usai break trendline sebelumnya.
Rupiah juga terdapat level resistance Rp17.700/US$ sebagai acuan paling optimistis penguatan rupiah di time frame daily, dalam tren jangka pendek (short-term).
Jika nilai tukar rupiah kembali berbalik arah menuju supportnya lagi pada level Rp17.900/US$, maka mengonfirmasi support selanjutnya pada level Rp18.000/US$ sebagai support psikologis juga Rp18.100/US$.
(riset)






























