Pandangan senada disampaikan Hesti Aryani dan Stefan Winzenried dari JANZZ Technologies. Mereka menilai Indonesia merupakan pasar yang sangat menarik karena memiliki basis konsumen yang besar, potensi pertumbuhan ekonomi yang kuat, terutama di sektor pasar tenaga kerja, serta ekonomi digital yang berkembang pesat. Di sisi lain, mereka berharap pemerintah dapat terus meningkatkan kepastian regulasi, menjaga konsistensi kebijakan, serta menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif.
"Kami sangat antusias terhadap peluang untuk berinvestasi di Indonesia. Daya tariknya terletak pada besarnya pasar, potensi ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi digital yang sangat cepat. Tantangan kami adalah memahami kompleksitas regulasi, memastikan konsistensi kebijakan, dan memahami dinamika politik lokal agar investasi dapat berjalan efektif," kata Hesti dan Stefan.
Menurut Founder & Managing Director Frontview Advisory Group AG, Erich James Hoesli, posisi Indonesia juga semakin strategis dalam peta investasi global. Ia menilai hanya sedikit negara yang mampu menawarkan kombinasi peluang untuk mengurangi risiko konsentrasi ekspor, menjaga infrastruktur strategis, sekaligus menjadi pasar pertumbuhan baru di tengah perubahan geopolitik dunia. Bahkan, Indonesia kini semakin sering menjadi pembahasan dalam rapat dewan direksi perusahaan-perusahaan internasional.
"Indonesia kini semakin sering menjadi topik pembahasan di tingkat dewan direksi perusahaan-perusahaan global, dan kami melihat negara ini akan menjadi salah satu fokus utama dalam strategi ekspansi internasional ke depan," ujar Erich.
Dari kalangan akademisi, Professor of Information Architecture ETH Zürich, Gerhard Schmitt, mengungkapkan bahwa pengalaman institusinya melalui program Future Cities Laboratory di Jakarta dan Batam memberikan hasil yang menggembirakan. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat menghasilkan berbagai inovasi yang memperkuat keyakinannya terhadap masa depan Indonesia.
"Saya sangat menikmati kolaborasi tersebut dan optimistis terhadap masa depan investasi di Indonesia," kata Gerhard.
Optimisme terhadap Indonesia tidak hanya datang dari perspektif investasi konvensional, tetapi juga dari ekosistem teknologi global. Co-Founder Crypto Valley Association di Zug, Swiss, Reto Gadient, menilai Indonesia memiliki karakter yang sangat selaras dengan Swiss dalam membangun ekosistem digital, yakni mengedepankan kepercayaan, hubungan jangka panjang, dan solusi yang pragmatis. Menurutnya, di tengah persaingan global dalam pengembangan AI, negara-negara seperti Indonesia justru menawarkan pendekatan berbeda yang memiliki nilai strategis.
Ia mengatakan forum bisnis yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dan Swiss di Crypto Valley menunjukkan besarnya peluang kolaborasi kedua negara, mulai dari pengembangan AI, sovereign cloud, blockchain, hingga penguatan kedaulatan digital.
"Di tengah hiruk pikuk persaingan global untuk mendominasi AI, potensi negara-negara yang diam-diam membangun jalannya sendiri sering kali terlupakan, termasuk Indonesia dan Swiss. Kedua negara sama-sama menjunjung tinggi kepercayaan, hubungan jangka panjang, dan solusi yang pragmatis. Forum bisnis di Crypto Valley menunjukkan bahwa Indonesia dan Swiss dapat memperoleh manfaat besar dari kerja sama yang lebih erat, termasuk dalam menjaga keberagaman budaya dan kedaulatan digital," ujar Reto.
Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, persepsi investor internasional terhadap Indonesia tetap positif. Selain didukung pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan pasar domestik yang besar, peluang pada sektor digital, kecerdasan buatan, pengembangan sumber daya manusia, hingga ekonomi berbasis inovasi semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi paling menarik di Asia.
Di saat yang sama, para investor berharap pemerintah terus meningkatkan kepastian regulasi, mempercepat proses perizinan, dan memperkuat infrastruktur agar potensi tersebut dapat terealisasi secara optimal.
Reportase Khusus oleh Pandu Sastrowardoyo dari Swiss.
(red)





























