Bestari juga menanggapi kritik Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Guntur Romli yang menyebut aksi tersebut berkaitan erat dengan ambisi kekuasaan tanpa batas untuk keluarga Jokowi. Menurutnya, Guntur sebenarnya bisa terlebih dahulu berkomunikasi dengan struktur PDIP di Lampung untuk menanyakan kebenaran prosesi adat tersebut.
"Boleh ditanyakan apakah seperti itu rangkaian kegiatan bila ada yang mau dianugerahi dengan gelar adat gitu, supaya tidak menjadi asbun [asal bunyi] dan menyinggung perasaan masyarakat terutama masyarakat adat di Lampung," ujarnya.
Sebelumnya, Guntur menggarisbawahi Jokowi hanya menginjak kepala kerbau, bukan banteng yang merupakan lambang dari PDIP. Meski sebenarnya kerbau dan banteng sama-sama berasal dari subfamili Bovinae, keduanya merupakan hewan yang berbeda.
Politisi dari partai berlambang kepala banteng hitam bermoncong putih itu mengatakan banteng merupakan satwa yang dilindungi dan tidak bisa dijadikan tumbal atau kurban. Sementara kerbau adalah hewan ternak.
Dalam foto yang beredar, Jokowi nampak duduk di kursi khusus sambil kakinya menginjak kepala kerbau berwarna hitam, dengan sejumlah bulu pada bagian mulut berwarna putih. Kepala kerbau tersebut kemudian menjadi polemik karena dikaitkan dengan logo PDIP yaitu kepala banteng dengan moncong warna putih.
(dov/frg)





























