Dalam pernyataannya pada Sabtu, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan Amerika. "Serangan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap paragraf pertama Nota Kesepahaman yang ditandatangani kedua negara awal bulan ini," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, dikutip dari Bloomberg News pada Sabtu (27/6/2026).
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah lokasi milik AS. Namun, mereka tidak menjelaskan secara rinci target yang disasar. Klaim tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga kini, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) belum memberikan tanggapan atas klaim Iran tersebut.
Di pihak lain, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan Washington telah menjalankan isi kesepakatan yang telah disepakati kedua negara.
"Kami telah menghormati kesepakatan itu. Jika mereka memiliki perbedaan pendapat mengenai penerapan nota kesepahaman tersebut, mereka bisa menghubungi kami. Namun, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," kata Vance melalui unggahan di platform X pada Jumat.
Di tengah memburuknya hubungan AS dan Iran, masih muncul perkembangan positif terkait konflik Israel-Lebanon. Pada Jumat, Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan awal yang diharapkan menjadi jalan menuju berakhirnya konflik dan tercapainya penyelesaian damai.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah menegaskan bahwa Washington siap kembali mengambil tindakan militer apabila Iran melanggar ketentuan dalam gencatan senjata selama 60 hari yang disepakati pekan lalu. Kesepakatan tersebut mencakup jaminan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz serta pembahasan program nuklir Iran sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi.
Kini perhatian tertuju pada dampak kembali memanasnya situasi terhadap upaya memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang. Pekan lalu, Washington dan Teheran sebenarnya masih mampu mencapai kesepakatan damai sementara meski sebelumnya saling melancarkan serangan.
Meski demikian, kedua negara masih berselisih mengenai sejumlah poin penting dalam kesepakatan, termasuk rencana Iran mengenakan tarif atau biaya tertentu bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sebelumnya, Oman telah memberi tahu para pejabat Eropa bahwa kapal kemungkinan tetap akan dikenai sejumlah biaya.
Keputusan Trump melancarkan serangan menunjukkan AS tetap bersedia menggunakan kekuatan militer demi menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Di sisi lain, aksi balasan Iran memperlihatkan upaya Teheran mempertahankan kendalinya atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Iran diketahui telah menutup sebagian besar akses Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari. Langkah itu menjadi salah satu alat tekan utama Teheran terhadap AS sekaligus mengguncang perekonomian global.
Serangan drone Iran juga memicu kekhawatiran di kalangan pemilik dan awak kapal. Meski demikian, data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal tetap melintasi Selat Hormuz pada Sabtu pagi melalui jalur yang berada di dekat pantai Iran dan Oman.
Teheran berulang kali menegaskan kapal tidak dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari pemerintah Iran. Bahkan, beberapa kapal tanker dilaporkan berbalik arah pada Kamis setelah menerima peringatan dari Angkatan Laut Iran.
Dalam pernyataannya pada Jumat (26/6/2026), CENTCOM memastikan akan tetap mengawal keamanan pelayaran. "Kami akan terus memberikan koordinasi jalur aman dan dukungan bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.
(bbn)



























