“Tabungnya itu nanti polanya bukan dibeli oleh masyarakat, tetapi milik badan usaha. Jadi, masyarakat tinggal tukar-tukar aja. Masyarakat juga tidak sewa. Jadi, masyarakat hanya beli isinya aja,” ujar Laode.
Dia juga menyatakan Indonesia berencana mengimpor sekitar 100.000 tabung CNG dari China, untuk dilakukan uji coba.
“Itu untuk uji coba. Uji coba dulu,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan program masifikasi CNG 3 kg sebagai alternatif pengganti LPG telah memasuki uji tahap ketiga.
“CNG ini sekarang sudah masuk dalam tahap ketiga untuk gas tabung 3 kilonya sama Pertamina,” kata Bahlil dalam agenda Energy Forum CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).
Sementara itu, tabung CNG berkapasitas 12 kg dan 50 kg telah lebih dahulu digunakan di sektor komersial, seperti dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, dan restoran.
“Kalau CNG-nya yang 12 kilogram, 50 kilogram itu sudah ada di dapur-dapur MBG di industri apa namanya hotel restoran itu? Horeka, sudah pakai CNG. Ini bukan barang baru,” tambahnya.
Bahlil menambahkan saat ini CNG tengah diuji coba dengan menggunakan valve atau katup sebagai komponen mekanis yang berfungsi untuk mengatur, membuka, menutup, atau mengendalikan aliran gas dari tabung menuju kompor.
"Nah ini yang kita sekarang lagi uji coba dia pakai valve. Ini yang kita coba. Nanti kompornya tidak perlu diganti, jadi kompor langsung,” kata Bahlil.
Menurutnya, penggunaan valve dapat mencegah ledakan, kebakaran hingga kebocoran gas meskipun terpapar suhu api ekstrem hingga 1000 °C.
“Dan itu [valve] bisa menahan ledakan dan kebakaran sampai 1000 derajat,” ungkap Bahlil.
Pada kesempatan terpisah, Bahlil juga menyebut pengujian tabung CNG 3 kilogram akan dilakukan di dua tempat, yaitu di China dan Indonesia.
“Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China, dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya,” ungkap Bahlil di Istana Negara, Senin (18/5/2026).
Untuk pengujian CNG 3 kg ungkap Bahlil akan memfokuskan pada keamanan, mengingat daya tekan CNG yang lebih besar dibandingkan dengan gas jenis lainnya, seperti LPG dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
“Nah, 3 kilogram ini daya tekanannya kan besar, 200—250 bar. Jadi ini harus dicek dahulu. Kalau sudah lolos uji, baru bisa kita,” ungkap Bahlil.
Sebagai pembanding, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, CNG memiliki tekanan cukup tinggi; yakni sekitar 200 hingga 250 bar (sekitar 3.000—3.600 psi), sehingga membutuhkan tabung yang sangat tebal dan kuat.
LPG memiliki tekanan jauh lebih rendah, berkisar 5 hingga 10 bar (untuk tabung rumah tangga) hingga maksimal sekitar 18—24 bar. Lalu, LNG memiliki tekanan yang paling rendah, umumnya hanya sekitar 2 hingga 10 bar.
(azr/wdh)




























