Menurut Purbaya, suntikan pemerintah ke Himbara tersebut merupakan satu-satunya mesin untuk pertumbuhan ekonomi pada saat ini. Hal tersebut juga sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan perekonomian untuk tetap berjalan.
Ia menyebut tekanan terhadap rupiah terjadi seiring dengan mengeringnya likuiditas di perbankan dan pada pelaku usaha. Hal ini berpotensi membuat perekonomian nasional semakin melambat. Dengan melambatnya perekonomian, maka kekhawatiran investor meningkat sehingga berpotensi untuk keluar dari pasar.
“Kalau kita balikkan, prospek ekonomi balik lagi kan, akan lari lagi. Ya orang cenderung investasi negara yang ekonominya akan lari. Akibatnya rupiah akan menguat lagi,” kata Purbaya.
Respon Bank Himbara
Purbaya menyebut bahwa bank Himbara menyambut inisiatif tersebut. Hal ini menurutnya karena bank-bank himbara tersebut sudah merasakan kurangnya likuiditas dalam beberapa pekan terakhir.
“Rupanya mereka setiap hari sudah monitor kondisi likuiditas bank dalam dua minggu terakhir. Jadi hampir nggak istirahat termasuk Sabtu minggu. Jadi begitu dikasih begitu yaudah saya bilang kamu besok libur aja semua,” kelakar Purbaya.
Purbaya mengatakan bahwa terdapat lima bank Himbara yang akan memperoleh guyuran dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah tersebut yakni Bank Mandiri, BNI, BTN, BSI, dan BRI. Purbaya mengatakan bahwa dirinya hanya akan mengguyur dana ke lima perbankan tersebut.
“Karena kalau mereka cukup, otomatis uangnya akan mengalir ke sistem keuangan. Artinya ke bank-bank yang lain melalui pasar interbank.Maupun kalau orang yang pinjam ke situ kan naruhnya nggak di bank situ kan,” kata Purbaya.
Menurut Purbaya hal tersebut merupakan proses penciptaan uang. Artinya pemerintah memaksa sistem finansial kita hidup melalui invisible hand yang kita kendalikan.
(ell)




























