Padahal, dalam kondisi normal investor akan meminta yield lebih tinggi untuk obligasi jangka panjang, sebagai kompensasi atas risiko inflasi, perubahan suku bunga, dan adanya ketidakpastian ekonomi masa depan.
Datarnya yield antara tenor 1 tahun dan 10 tahun di level 7,18% mengindikasikan pasar saat ini menilai risiko jangka pendek sama besarnya dengan risiko jangka panjang.
Bukan tanpa sebab, pasar sedang mencermati risiko jangka pendek dan berekspektasi bahwa The Fed akan mengambil langkah hawkish setelah inflasi AS melonjak ke 4,1%. Data inflasi ini berpotensi mendorong kenaikan lanjutan Fed Fund Rate (FFR) dan mempertahankan penguatan dolar AS.
Menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas (MCS), aksi beli di pasar SUN terjadi seiring dengan pelaku pasar yang lebih dulu pricing in ekspektasi bahwa inflasi AS tidak akan setinggi perkiraan. Ekspektasi tersebut terkonfirmasi dalam rilis data tadi malam, yang menunjukkan tekanan inflasi tidak seburuk proyeksi pelaku pasar.
"Rilis inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) tadi malam menurunkan peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini sebanyak dua kali, masing-masing 25 bps," kata Lionel dalam catatannya bersama Nanda Puput Rahmawati, Fixed Income Analyst MCS.
Dia memperkirakan yield obligasi pemerintah AS, US Treasury akan mengalami konsolidasi di 4,39%, meskipun yield tenor 2 tahun turun 2,3 bps menjadi 4,12%, dan yield tenor 30 tahun naik 2,2 bps jadi 4,86%.
"Dengan mempertimbangkan hasil ini, kami memprediksi yield SUN tenor 10 tahun bergerak stabil di rentang 7,15-7,20%," katanya.
Di sisi lain, aksi beli di pasar surat utang RI berdenominasi dolar AS (INDON) juga diproyeksikan berlanjut dengan potensi penurunan yield ke rentang 5,3%-5,4%. Sebagai catatan, yield INDON 10 tahun sempat terkerek hingga 5,58% pada 8 Juni lalu.
(dsp/aji)































