"Nah ini yang kita sekarang lagi uji coba dia pakai valve. Ini yang kita coba. Nanti kompornya tidak perlu diganti, jadi kompor langsung,” kata Bahlil.
Menurutnya, penggunaan valve dapat mencegah ledakan, kebakaran hingga kebocoran gas meskipun terpapar suhu api ekstrem hingga 1000 °C.
“Dan itu [valve] bisa menahan ledakan dan kebakaran sampai 1000 derajat,” ungkap Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil menyebut pengujian tabung CNG 3 kilogram akan dilakukan di dua tempat, yaitu di China dan Indonesia.
“Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China, dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya,” ungkap Bahlil di Istana Negara, Senin (18/5/2026).
Untuk pengujian CNG 3 kg ungkap Bahlil akan memfokuskan pada keamanan, mengingat daya tekan CNG yang lebih besar dibandingkan dengan gas jenis lainnya, seperti LPG dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
“Nah, 3 kilogram ini daya tekanannya kan besar, 200—250 bar. Jadi ini harus dicek dahulu. Kalau sudah lolos uji, baru bisa kita,” ungkap Bahlil.
Sebagai pembanding, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, CNG memiliki tekanan cukup tinggi; yakni sekitar 200 hingga 250 bar (sekitar 3.000—3.600 psi), sehingga membutuhkan tabung yang sangat tebal dan kuat.
LPG memiliki tekanan jauh lebih rendah, berkisar 5 hingga 10 bar (untuk tabung rumah tangga) hingga maksimal sekitar 18—24 bar. Lalu, LNG memiliki tekanan yang paling rendah, umumnya hanya sekitar 2 hingga 10 bar.
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman juga telah menyatakan teknologi untuk mengembangkan CNG tabung 3 kg saat ini dimiliki oleh China, sehingga terdapat potensi impor didatangkan dari Negeri Panda.
Laode juga memastikan impor tabung CNG 3 kg hanya dilakukan untuk program masifikasi CNG pada tahap awal, sebab teknologi tersebut masih belum dimiliki Indonesia.
“Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum. Akan tetapi, kalau skalanya sudah masif, bisa nanti kita alihkan ke dalam,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).
“Ya China. Banyak sih negara yang ini, tetapi kita sejauh ini China. Iya [ada potensi impor dari China], seperti itu. Tahap awal ya,” tegas dia.
(smr/wdh)































