Logo Bloomberg Technoz

Ketika pandemi terjadi, masing-masing negara akan mengutamakan keselamatan rakyatnya sendiri sehingga negara-negara dengan populasi besar harus memiliki sistem ketahanan kesehatan yang mandiri.

Selain isu ketahanan kesehatan, Budi mengatakan dirinya bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan meyakini target pertumbuhan ekonomi 8% harus dikejar secepat mungkin agar Indonesia tidak kehilangan momentum bonus demografi dan terjebak menjadi negara berpendapatan menengah.

Ia menjelaskan belanja kesehatan Indonesia secara historis telah berada di atas 10% setiap tahun, bahkan mencapai 16% pada tahun lalu. Namun, belanja tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi sektor kesehatan karena sebagian besar produk masih berasal dari impor.

"Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja justru dinikmati negara lain. Karena itu, kami mendorong agar seluruh rantai produksi kesehatan dapat dilakukan di Indonesia,"katanya.

"Sebagai contoh, produksi paracetamol dimulai dari benzena, lalu menjadi kumena, kemudian fenol, dan akhirnya menjadi paracetamol. Jika seluruh rantai hilirisasi ini dilakukan di Indonesia, maka belanja kesehatan yang terus meningkat dapat berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

Budi juga menyoroti pentingnya hilirisasi plasma darah. Menurut dia, dari darah dapat dihasilkan berbagai produk seperti plasma, albumin, immunoglobulin (IVIG), hingga faktor VIII dan faktor IX yang selama ini masih diimpor.

"Padahal Indonesia memiliki sumber daya darah yang sangat besar karena jumlah penduduknya yang besar. Karena itu, kita ingin membangun kemampuan produksi sendiri sehingga ketahanan kesehatan nasional semakin kuat dan kita tidak bergantung pada negara lain ketika menghadapi pandemi di masa depan," kata Budi.

Dalam forum tersebut, para peserta membahas penguatan kerja sama regional untuk membangun ketahanan kesehatan kawasan. 

Topik yang dibahas meliputi pengembangan manufaktur vaksin, penguatan kesiapsiagaan dan respons pandemi, kolaborasi regulasi, ketahanan rantai pasok kesehatan, hingga pembiayaan berkelanjutan guna mendukung keamanan kesehatan di masa depan.

(dec)

No more pages