Logo Bloomberg Technoz

Kondisi di IWIP

Pada perkembangan lain, produksi smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) yang menghasilkan nickel pig iron (NPI) di Indonesia Wedabay Industrial Park (IWIP) sebelumnya dilaporkan sudah turun hingga 15%, dipengaruhi kekurangan pasokan bijih dan listrik.

Berdasarkan catatan Shanghai Metals Market (SMM), produksi NPI berkadar tinggi di kawasan IWIP turun sebesar 10%—15% gegara beberapa lini produksi smelter RKEF diberhentikan sementara untuk pemeliharaan akibat kekurangan bijih dan tingginya biaya operasional.

“Fasilitas di Weda Bay yang berada di kawasan industri IWIP mengumumkan produksi NPI berkualitas tinggi akan dikurangi sebesar 10%—15% dalam beberapa bulan mendatang,” sebagaimana tertulis dalam catatan SMM, baru-baru ini.

“Dengan beberapa jalur produksi telah menjalani masa penghentian operasional untuk pemeliharaan sejak Maret akibat kelangkaan bijih dan kenaikan biaya operasional,” tegasnya.

Sebelum itu, IWIP dikabarkan meminta sejumlah produsen NPI di kawasannya untuk mengurangi produksi pada Juni agar pasokan listrik smelter aluminium di IWIP dapat terpenuhi.

Analis Nikel dan Stainless Steel SMM Bruce Chew mencatat produksi NPI di IWIP stabil di sekitar 40.000 ton kandungan nikel per bulan.

Dengan demikian, jika produksi NPI di IWIP turun sekitar 15%, terdapat penurunan produksi NPI sebesar 6.000 ton kandungan nikel per bulan.

“Secara tersendiri, volume ini kemungkinan tidak cukup untuk mengubah pasar nikel global keluar dari kondisi surplus, tetapi dapat memberikan dukungan langsung terhadap impor NPI ke China, sentimen pembelian pabrik, dan premi untuk NPI kadar tinggi,” tulis Chew dalam risetnya.

Adapun, sentra nikel IMIP memiliki tiga klaster industri, di antaranya klaster stainless steel, klaster carbon steel, dan klaster komponen baterai listrik.

Klaster stainless steel yakni pengolahan bijih nikel menjadi NPI hingga baja nirkarat. Klaster carbon steel merupakan klaster yang memproduksi baja karbon dengan kapasitas produksi hingga 7 juta metrik ton per tahun.

Berikutnya, ada klaster baterai kendaraan listrik yang dibangun untuk mendukung program energi bersih dan terbarukan yang digagas oleh pemerintah.

Sebelumnya, Eramet Indonesia mengungkapkan smelter nikel di IWIP berpotensi kekurangan bijih nikel sekitar 30 juta ton jika revisi RKAB 2026 PT Weda Bay Nickel (WBN) tidak disetujui.

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet menjelaskan konsumsi bijih nikel untuk smelter nikel di kawasan IWIP pada 2025 mencapai 120 juta ton. Dari besaran itu, pada tahun lalu WBN memasok sekitar 42 juta ton bijih nikel.

Lantaran produksi WBN periode 2026 yang hanya disetujui 12 juta ton dan sudah habis, Baudelet memprediksi smelter nikel di kawasan IWIP bakal kekurangan bijih nikel hingga 30 juta ton.

“Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan, maka Anda akan mengalami defisit 30 juta ton dari Weda Bay Nickel,” kata Baudelet kepada awak media di sela Indonesia Critical Mineral Conference, Kamis (4/6/2026).

Baudelet mengungkapkan, jika skenario tersebut terjadi, maka smelter nikel di kawasan IWIP harus mencari bijih dari wilayah lain seperti Pulau Sulawesi. Selain itu, bijih nikel biasanya dipasok dari Filipina.

(azr/wdh)

No more pages