Dalam sebuah wawancara, Spiegel, yang juga menjabat sebagai CEO, menyebut kacamata ini sebagai “peluang jangka panjang yang sangat besar” bagi Snap. Operator Snapchat ini sedang mengalami masa pergolakan pasca memotong 16% tenaga kerjanya dan investor aktivis Irenic Capital Management mengambil saham di perusahaan tersebut.
Saham Snap suudah turun hampir 30% tahun ini. Pada bulan Januari, Snap mendirikan anak perusahaan bernama Specs Inc. untuk memberikan kemandirian bagi produk terbarunya dari bagian perusahaan lainnya.
Snap Specs menonjol dibandingkan perangkat seperti Quest dari Meta Platforms Inc. dan Vision Pro dari Apple Inc., yang mengandalkan kamera untuk menangkap lingkungan sekitar dan menampilkannya di layar digital di dalam headset. Perangkat ini juga berbeda dari kategori kacamata pintar tanpa layar yang semakin berkembang, yang mengadopsi pendekatan yang lebih sederhana dan terjangkau.
Snap memasuki pasar tersebut sekitar satu dekade lalu dengan Spectacles, dan para pesaing termasuk Meta dan Apple kini berinvestasi besar-besaran dalam produk serupa.
Spiegel menyebut Specs sebagai perangkat yang “sangat, sangat” nyaman dipakai dan sangat mumpuni, yang menurutnya memberi Snap peluang “di pasar yang saat ini berfokus pada headset yang sangat besar dan berat namun sangat mumpuni, atau kacamata yang sangat ringan namun tidak benar-benar bisa melakukan banyak hal.”
Fitur utamanya meliputi tampilan komputer eksternal virtual, asisten suara berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kontekstual, petunjuk arah langkah demi langkah, serta notifikasi dari ponsel yang terhubung.
Snap turut serta memamerkan aplikasi pihak ketiga untuk membantu dalam berbagai skenario seperti bermain golf, bermain drum, dan pendidikan.
“Alasan mengapa kami memiliki keunggulan sebagai pelopor saat ini dengan Specs adalah karena kami telah berinvestasi dalam augmented reality (AR) dan tool pengembang kami sejak lama,” kata Spiegel. Ia menambahkan bahwa ratusan Lenses, atau aplikasi AR, akan tersedia untuk perangkat ini saat diluncurkan.
Kacamata hitam glossy ini dapat digunakan selama empat jam dengan sekali charge. Perangkat ini dilengkapi dengan kotak penyimpanan yang dapat mengisi dayanya hingga empat kali. Layarnya memungkinkan bidang pandang 51 derajat, dengan hingga 16 juta warna.
Angka hasil klaim tersebut lebih sempit daripada spesifikasi 70 derajat yang digembar-gemborkan Meta dua tahun lalu pada prototipe kacamata yang dikenal sebagai Orion, tetapi jauh lebih baik daripada spesifikasi 20 derajat yang ditawarkan pada kacamata non-AR Meta saat ini.
Perangkat Snap menggunakan pelacakan tangan guna pengendalian dan dilengkapi dengan dua prosesor Qualcomm Inc. Meta telah mengindikasikan bahwa kacamata AR masa depannya akan dikendalikan menggunakan gelang saraf — perangkat yang mendeteksi gerakan tangan — sementara headset Apple saat ini menggunakan pelacakan mata dan tangan.
Spiegel menyorot persaingannya yang sudah berlangsung lama dengan Meta yang berbasis di Menlo Park, California, terkait fitur-fitur Snapchat, dengan mengatakan bahwa “para peniru di utara itu tidak akan bisa meniru yang satu ini. Kami telah mengajukan lebih dari 7.000 paten.”
Walau mahal, harga US$2.195 dinilai tetap kompetitif dibandingkan produk-produk canggih lainnya di bidang ini. Apple Vision Pro dibanderol mulai dari US$3.499, sementara perangkat HoloLens dari Microsoft Corp. dan Magic Leap memiliki harga yang serupa. Kacamata pintar Meta saat ini, yang dilengkapi layar bawaan namun tidak memiliki kemampuan AR penuh, dibanderol mulai dari US$799.
Spiegel membela harga perangkatnya dengan mengatakan bahwa Apple Macintosh tahun 1984 akan berharga US$8.000 jika dikonversi ke mata uang saat ini. CEO tersebut menyatakan bahwa produk perusahaannya unggul dibandingkan pesaing karena menawarkan kualitas visual yang mendekati headset kelas atas yang mahal serta kenyamanan pemakaian yang lebih mirip dengan model tanpa layar.
Pertanyaan terpentingnya adalah apakah orang-orang akan bersedia membeli produk tersebut. Apple, terlepas dari kehebatan pemasarannya dan daya tarik mereknya, telah berjuang keras untuk menemukan pasar bagi perangkatnya. Meta telah meraih kesuksesan yang lebih besar, dengan menjual jutaan unit kacamata, tetapi harganya jauh lebih rendah. Magic Leap dan Microsoft tidak lagi menjual headset.
“Saya rasa Specs hadir pada saat di mana orang-orang benar-benar siap untuk sesuatu yang baru, hampir dua dekade sejak iPhone,” kata Spiegel, sambil mengakui bahwa versi pertama ini lebih merupakan pelengkap smartphone daripada penggantinya.
Dia mengatakan bahwa ia yakin pembeli awal “akan terdiri dari para pengadopsi awal, orang-orang yang ingin mencoba jenis komputasi baru,” serta para pengembang yang bersemangat tentang ruang realitas campuran. “Yang mengejutkan, kami telah menerima banyak minat dari kalangan perusahaan,” tambahnya.
Snap merilis produk ini tahun ini karena beberapa komponen yang telah dikembangkannya selama satu dekade terakhir, termasuk sistem operasi baru, sistem optik, dan layar, “telah bersatu pada saat ini,” kata Spiegel.
Sejalan dengan waktu, ia melihat aspek-aspek seperti berat dan harga akan terus mengalami perbaikan. Perangkat ini juga dapat membantu mengatasi kecanduan layar, katanya.
“Orang-orang mulai mempertanyakan korelasi mereka dengan komputer dan layar, serta bertanya-tanya, ‘Apakah ada yang lebih baik dari ini? Saya merasa seperti terus-menerus menunduk ke layar mungil ini,” kata Spiegel. “Alih-alih terlibat dalam dunia sekitar, saya merasa teralihkan alih-alih hadir sepenuhnya.”
Di sisi lain, The Specs merupakan “perubahan yang sangat mendalam dan menurut saya akan membantu menjadikan komputasi lebih manusiawi,” ujarnya.
(red)






























