Logo Bloomberg Technoz

Ia menambahkan bahwa penguatan tersebut terjadi dalam waktu relatif singkat.

“Rupiah Indonesia sebenarnya telah menguat 2,8% dalam 10 hari terakhir terhadap USD,” ujarnya.

Bagi Shan, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan berasal dari melemahnya fondasi ekonomi nasional, melainkan lebih dipengaruhi oleh dinamika pasar global.

“Karena penguatan dolar AS, guncangan eksternal, mata uang sempat menghadapi tekanan, tetapi ia telah bangkit kembali dengan sangat luar biasa,” katanya.

Shan menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki sejumlah faktor yang mendukung stabilitas ekonomi. Mulai dari pertumbuhan ekonomi yang kuat, konsumsi domestik yang tetap terjaga, hingga investasi yang terus mengalir.

Menurutnya, kombinasi faktor tersebut menjadi alasan mengapa rupiah mampu kembali menguat setelah mengalami tekanan.

“Ini menunjukkan dengan jelas bahwa ekonominya kuat, tetap tangguh, dan Indonesia terus berada dalam radar pantauan investor global,” ujarnya.

Selain itu, Shan juga memberikan apresiasi terhadap langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter.

Ia menilai kebijakan yang diterapkan otoritas moneter berhasil menjaga kepercayaan pasar dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar.

“Saya memberikan apresiasi penuh kepada Bank Indonesia, Bank Sentral, yang telah mempertahankan kebijakan moneter yang bijaksana,” katanya.

Menurut Shan, penguatan rupiah harus dilihat sebagai bagian dari kemampuan Indonesia menjaga stabilitas ekonomi di tengah lingkungan global yang masih penuh tantangan.

Karena itu, ia menilai pemulihan nilai tukar menjadi salah satu bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid.

Untuk informasi selengkapnya saksikan: Bloomberg Technoz Exclusive Interview: Menjaga Kepercayaan, Mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi RI.


(red)

No more pages