Logo Bloomberg Technoz

Waspada Stabilitas

Meskipun begitu, Moshe tetap mewaspadai potensi harga minyak berfluktuasi jika konflik geopolitik di Ukraina dan Rusia kembali meningkat. 

Alasannya, stabilitas harga minyak dunia menjadi kunci bagi investasi di hulu migas dan memberi kepastian bagi keuangan negara.

“Karena naik-turun, itu yang membuat jadi iklim itu tidak pasti ya. Jadi stabilitas, mau itu stabil di angka US$80/barel, stabil di angka US$60/barel, enggak masalah ya. Jadi kepastiannya itu ada,” tegasnya.

Harga minyak mentah dunia bergerak melemah seiring langkah para pelaku pasar menganalisis dampak dari pakta perdamaian sementara antara AS dan Iran.

Berdasarkan laporan televisi negara Republik Islam tersebut serta seorang pejabat AS, dokumen kesepakatan itu kini telah ditandatangani secara digital oleh presiden kedua negara.

Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali aliran jutaan barel minyak dari Timur Tengah seiring dimulainya kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz setelah berakhirnya blokade ganda.

Konflik tersebut pecah pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan tujuan membatasi program nuklir negara tersebut.

Sebagai respons, Teheran memblokir Selat Hormuz, jalur yang pada masa normal mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Adapun, harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun 0,6% menjadi US$79,35/barel pada pukul 09.42 di Singapura pagi ini. 

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 0,7% menjadi US$76,09/barel. Kontrak WTI Agustus yang lebih aktif turun 0,5% menjadi US$75,49/barel.

Grafik pergerakan harga minyak. (Sumber: Bloomberg)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Sepanjang April 2026  impor migas Indonesia menembus US$4,60 miliar, sekaligus menandakan rekor nilai impor migas bulanan tertinggi sepanjang masa.

Tidak tanggung-tanggung, angka itu juga melambung 82,52% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan terbesar dari impor migas pada periode tersebut ditopang oleh pembelian hasil minyak—termasuk BBM — yang menanjak 87,76% dan minyak mentah (crude) yang juga terkerek 67,49%.

Untuk diketahui, impor migas tercatat menyumbang sekitar 18% dari total impor nasional pada empat bulan pertama tahun berjalan yang mencapai US$25,21 miliar.

Sekadar informasi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat membeberkan simulasi dampak kenaikan harga minyak mentah.

Dalam skenario terburuk, Airlangga justru mengatakan jika rata-rata harga minyak menembus US$115/barel, maka defisit APBN bakal melebar hingga 4,06% terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga US$115 per barel, kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2%, surat berharganya 7,2%, defisitnya 4,06%,” kata Airlangga dalam sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026).

Pada skenario pertama, dengan rata-rata ICP sekitar US$90 per barel sepanjang 2026, kurs rupiah diasumsikan Rp17.000/US$ dengan pertumbuhan ekonomi 5,3%, imbal hasil surat berharga negara diperkirakan 6,8%, sehingga defisit APBN diproyeksikan mencapai 3,18% PDB.

Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan Iran terjadi selama 5 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107/barel dalam periode perang tersebut.

Sementara itu, pada skenario moderat, jika harga minyak sepanjang tahun ini sebesar US$97/barel, kurs rupiah Rp17.300/US$, pertumbuhan ekonomi 5,2%, tingkat bunga surat berharga negara sekitar 7,2%. Pada skenario ini, defisit APBN berpotensi melebar menjadi 3,53% PDB.

Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan Iran terjadi selama 6 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107/barel dalam periode konflik tersebut.

Pada skenario terburuk, ketika rata-rata harga minyak mencapai US$115/barel, kurs rupiah diasumsikan melemah hingga Rp17.500/US$ dengan pertumbuhan ekonomi 5,2% dan imbal hasil surat berharga negara 7,2%. 

Dalam kondisi tersebut, Airlangga memprediksi defisit APBN mencapai 4,06% terhadap PDB.

Dia mengungkapkan skenario tersebut dapat terjadi jika perang berlangsung selama 10 bulan dan harga minyak mentah menyentuh level US$130/barel dalam periode perang tersebut.

(azr/wdh)

No more pages