Logo Bloomberg Technoz

Mengutip riset yang disusun Stockbit, kriteria pasar Indonesia masih salah satu yang terbaik di emerging market Asia kendati aspek transparansi tetap disorot MSCI.

“Hanya China dan Malaysia yang secara umum lebih ‘lengkap’ dibandingkan Indonesia,” dikutip dari riset Stockbit.

Selain itu, tulis Stockbit, gap antara pasar Indonesia dengan Vietnam yang merupakan frontier market juga masih lebar.

Di sisi lain, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin menilai hasil tinjauan aksesibilitas pasar MSCI kali ini tidak membawa kejutan negatif yang berarti.

Menurutnya, dari 18 indikator yang dievaluasi, hanya satu aspek yang mengalami perubahan, yakni information flow. Persoalan tersebut juga sudah menjadi perhatian sejak awal tahun.

"Isu ini sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak Januari dan masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Tidak adanya penurunan yang lebih luas justru menjadi sinyal yang lebih penting," tulis Wilbert dalam risetnya.

Wilbert juga menilai kekhawatiran pasar terkait potensi Indonesia terdegradasi menjadi frontier market masih berlebihan. Dia menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki keunggulan dari sisi akses investor asing. 

Bahkan, berdasarkan penilaian MSCI, Indonesia memperoleh skor tertinggi untuk akses kepemilikan asing, melampaui China dan India.

Selain itu, reformasi transparansi pasar dinilai sudah mulai berjalan dan tercermin dalam proses penyesuaian indeks pada Mei lalu.

Transparansi Saham 

Sebelumnya, MSCI menurunkan penilaian transparansi pasar modal Indonesia dalam 2026 Global Market Accessibility Review. Kendati demikian, MSCI tetap mempertahankan status Indonesia di emerging markets. 

Penilaian itu mencerminkan memburuknya transparansi struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perdagangan yang terkoordinasi di pasar domestik.

"Akibat terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham dan adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi sehingga menghambat proses pembentukan harga yang wajar," tulis MSCI dalam laporannya, dikutip Jumat (19/6/2026).

Penurunan penilaian tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari dua negara emerging markets yang mengalami penurunan skor pada tahun ini. Kendati demikian, MSCI tidak memerinci lebih spesifik aspek transparansi saham yang dianggap masih terbatas di Indonesia.

Lewat tinjauan indeks itu, MSCI menyoroti beberapa hambatan struktural yang membuat akses pasar Indonesia dinilai kurang kompetitif dibanding negara emerging markets lainnya.

Sejumlah konsen MSCI lainnya terkait dengan hak yang setara bagi investor asing, tingkat liberalisasi pasar valuta asing, kliring dan penyelesaian transaksi, transfer aset, peminjaman saham hingga short selling.

Adapun, para pelaku pasar kini menantikan Annual Market Classification Review yang dijadwalkan diumumkan pada 23 Juni 2026. Pengumuman tersebut akan menjadi penentu status serta bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.

(cpa/naw)

No more pages