Sektor penerbangan termasuk yang paling terdampak, menurut OCBC Group Research, karena penutupan wilayah udara dan pembatalan penerbangan mengganggu operasional. Di saat yang sama, strategi lindung nilai (hedging) yang terbatas membuat maskapai-maskapai regional rentan terhadap lonjakan harga bahan bakar.
Akibatnya, maskapai seperti Thai Airways International Pcl dan pemilik Philippine Airlines, PAL Holdings Inc., menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan pesaing layanan penuh lainnya seperti Singapore Airlines dan Cathay Pacific Airways, yang termasuk maskapai dengan tingkat lindung nilai bahan bakar tertinggi di Asia.
Meski para analis telah memangkas proyeksi laba di sebagian besar kawasan, sekitar 80% perusahaan yang tergabung dalam Indeks Saham Filipina (Philippine Stock Exchange Index) mengalami penurunan estimasi laba bersih kuartal kedua sejak konflik di Timur Tengah dimulai. Menurut Bloomberg Intelligence, ini merupakan proporsi tertinggi di antara pasar utama Asia Tenggara.
Thailand juga menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi, valuasi pasar yang kurang menarik, serta pemulihan laba yang semakin bergantung pada sektor energi dan petrokimia yang bersifat siklikal, menurut analis Maybank. Peningkatan belanja pemerintah untuk meredam dampak konflik tersebut juga masih belum menyebar ke perekonomian secara lebih luas.
“Kami melihat prospek pertumbuhan ekonomi yang lemah akan membebani pertumbuhan laba per saham indeks SET, terutama pada 2027,” tulis analis Chak Reungsinpinya dalam sebuah catatan, merujuk pada indeks acuan saham Thailand.
Laba perusahaan-perusahaan di Filipina diperkirakan anjlok 20% pada kuartal berjalan, yang akan menjadi kontraksi terdalam sejak 2022, menurut data yang dihimpun Bloomberg. Proyeksi tersebut mengikuti penurunan 4,3% pada kuartal pertama, yang tertekan oleh perlambatan sektor properti residensial, melemahnya margin di sektor terkait konsumen, serta meningkatnya pencadangan perbankan, menurut Maybank.
Sektor properti Filipina khususnya diperkirakan akan terus menghadapi tekanan, kata analis COL Financial Richard Laneda.
“Kami memperkirakan dampak krisis minyak terhadap pendapatan dan penjualan akan semakin besar pada kuartal kedua 2026 karena biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan ketidakpastian akibat krisis akan melemahkan sentimen konsumen serta menunda pembelian barang-barang bernilai besar,” ujarnya.
Di Thailand, pertumbuhan laba diperkirakan mulai kehilangan momentum pada kuartal kedua seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap biaya operasional yang lebih tinggi dan permintaan konsumen yang melemah. Laba kemudian diproyeksikan menyusut 13% pada kuartal ketiga, yang akan menjadi kontraksi terburuk di kawasan.
Kinerja Tertinggal di Kawasan
Indonesia juga menghadapi tekanan akibat pelemahan mata uang dan meningkatnya biaya bahan baku impor. Namun, dampaknya sebagian diimbangi oleh dukungan dari ekspor komoditas dan permintaan domestik yang tetap tangguh, menurut Bloomberg Intelligence.
Di sisi lain, laba perusahaan-perusahaan Vietnam tumbuh 28% pada kuartal pertama, sementara laba perusahaan Malaysia diperkirakan akan pulih setelah sektor perbankan — yang menyumbang hampir separuh bobot indeks acuan Kuala Lumpur — membebani kinerja keseluruhan pada tiga bulan pertama tahun ini, menurut Maybank.
Sektor petrokimia Malaysia diperkirakan memperoleh manfaat dari “lonjakan menuju profitabilitas” berkat kenaikan harga jual rata-rata. Sementara itu, sektor-sektor seperti sarung tangan medis, perkebunan, dan material juga berada dalam posisi yang diuntungkan oleh tren harga yang mendukung.
Meski demikian, harga minyak yang tetap tinggi masih menjadi risiko, terutama jika gangguan pasokan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini. Risiko tersebut masih mungkin terjadi meskipun kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin mendekati kenyataan.
Riset Eurobank menunjukkan bahwa bahkan jika kesepakatan tercapai dengan cepat, diperlukan waktu bagi volume pelayaran, arus pasokan minyak, dan produksi untuk kembali ke tingkat sebelum perang. Akibatnya, “harga energi kemungkinan akan tetap berada di atas level sebelum perang sepanjang paruh kedua tahun ini.”
Untuk musim laporan keuangan mendatang, investor perlu mencermati panduan margin laba, kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen, permintaan konsumen, sensitivitas terhadap nilai tukar, pertumbuhan kredit, serta kualitas aset, kata Sufianti.
Jika harga minyak tetap tinggi hingga kuartal ketiga, sektor-sektor yang paling rentan kemungkinan adalah industri yang berorientasi pada konsumen, transportasi dan logistik, serta perbankan melalui dampak tidak langsung. Risiko tersebut terutama akan dirasakan di negara-negara pengimpor minyak bersih seperti Thailand dan Filipina.
(bbn)































