Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto menyatakan produksi minyak mentah dari negara-negara OPEC+ sedang mengalami penurunan hingga sekitar 8 juta barel per hari.
Selain itu, Sugeng mengungkapkan cadangan minyak strategis di berbagai negara besar telah terkuras hingga sekitar 1,2 miliar barel dalam beberapa tahun terakhir.
Dia menilai kondisi tersebut perlu diwaspadai oleh pemerintah, sebab lapangan migas di Indonesia terbilang cukup tua dan produksinya terus menurun gegara penurunan produksi alami sekitar 7%—10% per tahun.
“Cadangan migas nasional terus menurun dan produksi mengalami natural decline sekitar 7%—10% per tahun. Untuk itu, pemerintah perlu mendorong eksplorasi dan investasi di sektor hulu migas,” ujar dia.
Adapun, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan capaian produksi minyak mentah Indonesia—termasuk kondensat, sepanjang Januari—April 2026 sekitar 576.700 barel per hari (bph).
SKK Migas memprediksi produksi minyak mentah sepanjang tahun ini mencapai 507.034 bph, kondensat sebesar 64.379 bph, NGL di hulu migas sebesar 21.242 bph, NGL gas terproses sebesar 10.290 bph, serta tambahan dari proyek NGL dan survei full tensor gravity gradiometry (FTG) sebesar 7.054 bph.
Dengan begitu, SKK Migas memproyeksi total produksi minyak mentah beserta kondensat sepanjang tahun ini bakal mencapai 610.000 bph.
Di sisi lain, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan produksi siap jual atau lifting minyak mentah Indonesia pada 2025 mencapai 581.600 bph, jika tidak dijumlahkan dengan besaran NGL sebanyak 24,2 bph.
Adapun, lifting minyak Indonesia sepanjang 2025 tercatat 605.800 bph atau melebihi target APBN 2025 sebanyak 605.000 bph. Sementara itu, pada 2024, capaian lifting tercatat sebesar 579.300 bph dan dilaporkan tanpa adanya NGL.
Djoko menjelaskan pada 2025 NGL masuk ke dalam perhitungan lifting minyak sebab secara fluida hidrokarbon yang keluar dari sumur migas memiliki karakteristik berbeda.
Ada sumur dengan tiga fasa yakni minyak, gas, dan air; ada yang dua fasa minyak dan gas; serta ada yang hanya satu fasa, baik seluruhnya minyak maupun seluruhnya gas.
Pada sumur tiga fasa, Djoko menjelaskan gas ikutan yang muncul di permukaan pada lapangan minyak sebelumnya banyak yang dilakukan flaring, meskipun kini dibatasi oleh ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Selain itu, air hasil produksi juga dikelola sesuai aturan lingkungan, baik melalui injeksi kembali ke reservoir maupun pembuangan yang memenuhi baku mutu lingkungan.
“Untuk mencapai target APBN kita lihat kaji regulasi UU kontrak standar internasional molekul itu sendiri itu NGL yang merupakan bahan baku LPG gitu masuk ke mana, ketika kita masukan ke dalam bagian dari lifting kita bisa mencapai target APBN,” kata Djoko menjawab pertanyaan anggota Komisi XII DPR ihwal NGL, medio Februari.
Djoko mencontohkan, di Lapangan Cepu, gas ikutan mencapai 155 million standard cubic feet per day (MMscfd) dimanfaatkan bersama air produksi untuk injeksi bertekanan tinggi guna meningkatkan produksi minyak melalui metode enhanced oil recovery (EOR).
Sementara itu, pada sumur dua fasa, gas yang sebelumnya dibakar kini makin dimanfaatkan seiring dorongan kebijakan zero gas flaring.
Untuk sumur satu fasa, minyak langsung dikirim ke kilang, sedangkan gas diperlakukan sesuai komposisinya yang terdiri dari molekul C1 hingga C7+.
Gas dapat disalurkan melalui pipa, diolah menjadi liquified natural gas (LNG) dengan proses pendinginan hingga minus 160 derajat atau menjadi compressed natural gas (CNG).
Selanjutnya, Djoko menyatakan liquified petroleum gas (LPG) tersusun dari molekul propana (C3) dan butana (C4), pada kondisi suhu dan tekanan normal berada dalam bentuk cair. Untuk itu, klaim Dojo, secara definisi LPG merupakan produk minyak bumi, bukan gas.
“Karena salah juga kita terjemahkan LPG itu adalah gas, LPG itu adalah minyak kalau sudah paham. Ini mau kita luruskan definisi UU dalam kontrak kita tuh LPG masuk di minyak. Kenapa selama ini masuk ke gas?” ujar Djoko.
-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(azr/wdh)































