Perwakilan Pertamina belum memberikan respons atas permintaan tanggapan hingga berita ini ditulis.
Pada akhir April, Pertamina juga mencari tiga kargo avtur dengan volume kumulatif sebanyak 400.000 barel. Kala itu, perseroan mencari satu kargo avtur dengan volume ~200.000 barel untuk pengiriman 3—5 Mei 2026.
Selain itu, Pertamina juga tercatat sedang mencari dua kargo avtur lainnya dengan volume masing-masing ~100.000 barel untuk pengiriman 2—4 Mei dan 18—20 Mei.
Kenaikan Harga
Sebelumnya, Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) melaporkan Pertamina telah menaikkan harga avtur untuk penerbangan rute domestik hingga lebih dari 70% pada April 2026 dari bulan sebelumnya.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja mengatakan penyesuaian harga bahan bakar jet untuk rute penerbangan domestik itu mulai berlaku per 1 April 2026.
Sementara itu, harga avtur untuk rute penerbangan internasional diklaim naik hingga 80% dari bulan lalu, tetapi berbeda-beda tiap bandara.
Dia mencontohkan harga avtur rute domestik pada Maret di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang adalah Rp13.656,51/liter, sedangkan pada April nilainya menembus Rp23.551,08/liter alias naik 72,45%.
“Jika dibandingkan dengan harga avtur domestik rata-rata pada 2019—pada saat tarif batas atas [TBA] mulai diberlakukan yaitu Rp7.970 — maka kenaikannya mencapai 295%,” terangnya melalui pernyataan resmi asosiasi, belum lama ini.
Kala itu, sejumlah maskapai penerbangan dunia menangguhkan sementara penerbangan di beberapa rute karena kekurangan bahan bakar jet dan kenaikan harga bahan bakar yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah.
Dalam perkembangannya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim pasokan bahan bakar jet Indonesia mencapai 33 hari, sehingga dalam kondisi aman dan terjaga di tengah fenomena pemangkasan rute maskapai penerbangan di berbagai negara akibat ketatnya pasokan avtur.
Sebagai acuan, batas minimum kategori aman untuk cadangan bahan bakar jet di Indonesia adalah 26 hari.
“Kita aman, stok avtur 33 hari,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman kepada Bloomberg Technoz, Rabu (25/3/2026).
(wdh)




























