Dari besaran itu, PLTU batu bara mendominasi produksi listrik di Jawa—Bali dengan porsi 71% dari total produksi listrik.
Setelah itu, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) memiliki porsi sebesar 16,6% dari total produksi listrik.
Kemudian, pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) memiliki porsi sekitar 10,01% dari total produksi listrik. Di sisi lain, masih terdapat pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan porsi 2,34%.
Secara umum, produksi listrik nasional per April 2026 mencapai 165,51 TWh. Dari besaran itu, PLTU batu bara mendominasi dengan porsi 64,87% dari total produksi listrik.
Kemudian, pembangkit EBT menyusul dengan porsi 17,89%. Lalu, PLTG memiliki porsi 13,86%. Selain itu, produksi listrik nasional dari PLTD mencapai 3,38%.
Lebih lanjut, sepanjang Januari hingga Maret 2026 daya mampu pasok (DMP) sistem kelistrikan Jawa Madura Bali (Jamali) mencapai 35,67 gigawatt (GW).
Beban puncak tertinggi tercatat sebesar 32,7 GW. Sementara itu, cadangan operasi mencapai 2,97 GW atau setara 9,1% cadangan operasi.
Kebutuhan Energi
Ditjen Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM mencatat total kebutuhan batu bara untuk PLTU di Pulau Jawa—Bali mencapai 152,54 juta ton.
Kebutuhan gas mencapai 1.302 british thermal unit per day (BBbtud), yang terdiri atas 103 kargo gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) dan gas pipa sebesar 526,4 BBtud.
Ditjen Gatrik mengungkapkan telah terdapat 72 kargo LNG yang diteken kontraknya dan potensi pemenuhan sisa 21 kargo. Walhasil, terdapat sisa 10 kargo dalam proses pemenuhan pada semester II-2026.
Adapun, total kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) mencapai 4,42 juta kiloliter (kl). Ditjen Gatrik menyatakan nominasi Maret mencapai 568.725 kl dan April mencapai 546.308 kl.
“Nominasi Maret dan April 2026 meningkat dari rata-rata 2025 untuk menjaga keandalan sistem akibat keterbatasan pasokan batu bara,” sebagaimana tertulis dalam dokumen resmi Ditjen Gatrik.
Sekadar informasi, Bahlil awal pekan ini mengungkapkan total kebutuhan batu bara PLN mencapai 154 juta metrik ton per tahun.
Dari total kebutuhan tersebut, pemerintah sebenarnya telah memberikan penugasan atau domestic market obligation (DMO) kepada perusahaan-perusahaan batu bara sebesar kurang lebih 190 juta ton. Kendati demikian, realisasi di lapangan belum berjalan mulus.
“Dari 190 juta ton yang sudah dilakukan konfirmasi kurang lebih sekitar 150—160 juta ton, dan sudah dilakukan kontrak sebesar 134 juta ton. Artinya, dari total kebutuhan PLN 154 juta, tinggal kurang 20 [juta metrik ton] yang belum dikontrakkan,” kata Bahlil di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (15/6/2026).
Bahlil mengaku telah menggelar rapat intensif selama 5,5 jam bersama Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo beserta jajaran direksi.
Dari pertemuan tersebut, teridentifikasi bahwa PLN tengah menghadapi kelangkaan jenis batu bara spesifik, yakni kalori sedang yang memiliki kualitas cukup baik. Di sisi lain, ketersediaan jenis batu bara ini terus menyusut.
Masalah juga muncul dari sisi ketidaksesuaian nilai keekonomian bagi para produsen batu bara.
Untuk diketahui, berdasarkan aturan DMO, harga jual batu bara untuk kelistrikan hingga saat ini masih dipatok sebesar US$70/ton.
Nilai ini dinilai sudah tidak lagi menutup biaya operasional penambangan atau stripping ratio (SR) yang kian tinggi.
“Sementara [stok batu bara] medium itu makin hari makin sedikit dan harganya juga murah. Kita bikin patok karena DMO US$70. Nah, sementara SR-nya sudah ada angka 10—12. Jadi harga jual ke PLN itu untuk perusahaannya sudah tidak ada [untungnya]. Itulah yang menjadi problem kepada mereka,” kata Bahlil.
Terpisah, Direktur Manajemen Pembangkit PLN Rizal Calvary Marimbo mengumumkan perseroan telah mengamankan pasokan batu bara sebanyak 163 juta ton untuk kebutuhan PLTU sepanjang tahun ini.
Rizal menyatakan mulanya perseroan mendapatkan komitmen pasokan batu bara sekitar 152 juta ton, tetapi dalam perkembangannya kini meningkat menjadi 163 juta ton.
“Sekarang saja kita sudah dapat komitmen RKAB itu 160 juta. Dari awalnya cuma sekitar 152 [juta ton], sekarang jadi 163 [juta ton]. Betul [pasokan aman hingga Desember 2026],” kata Rizal ditemui di Kompleks Parlemen, Senin (13/4/2026).
Sebelumnya, Rizal menyatakan pasokan batu bara untuk PLTU milik perseroan dan independent power producer (IPP) dalam kondisi memadai hingga Agustus 2026, usai PLN mengamankan kontrak pasokan batu bara sebesar 84 juta ton.
Rizal menyatakan PLN telah mendapatkan kepastian stok tersebut dari delapan pemasok, antara lain; PT Adaro Indonesia, PT Arutmin Indonesia, PT Berau Coal, PT Kaltim Prima Coal, PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Harapan Utama, PT Indominco Harapan Mandiri, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Lebih lanjut, Rizal mengungkapkan PLN juga sedang mengamankan sekitar 40 juta ton batu bara yang bakal dimanfaatkan selepas Agustus 2026.
(azr/wdh)



























