Kenaikan harga emas dipicu oleh euforia rencana penandatanganan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam waktu dekat. Bloomberg News mengabarkan, mengutip sejumlah pejabat senior, kedua negara akan meneken perjanjian untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz di sela-sela konferensi G7, pekan ini.
Pertemuan G7 akan dihelat di Evian (Prancis) pada 15-17 Juni. Kemungkinan penandatangan kesepakatan AS-Iran akan dilakukan di Jenewa (Swiss) yang dekat dengan lokasi tersebut.
Seorang petinggi di G7 mengungkapkan, pejabat senior Iran memberi indikasi bahwa kesepakatan kemungkinan akan tercapai. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance dan Utusan Khusus Steve Wifkoff akan mewakili dirinya dalam acara tersebut.
Kesepakatan damai interim ini akan memperpanjang masa gencatan senjata selama dua bulan dan negosiasi lanjutan seputar program nuklir Iran. Termasuk pula membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, dan AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Harapan menuju perdamaian di Timur Tengah merontokkan harga minyak. Pagi ini, harga minyak jenis brent jatuh 4,25% ke US$ 83,61/barel pada pukul 08:27 WIB.
Apabila harga minyak lebih terkendali, maka ancaman inflasi tinggi bisa dihindari. Dengan begitu, bank sentral di berbagai negara punya ruang untuk tidak menaikkan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi tidak menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)




























