Logo Bloomberg Technoz

"Jika laporan ini benar, maka upaya mengambil kembali uranium dengan pengayaan tinggi akan menjadi jauh lebih rumit," kata Scott Roecker, mantan Kepala Kantor Penghapusan Material Nuklir di National Nuclear Security Administration periode 2017-2021 dikutip CNN.

Menurut Roecker, situasi tersebut juga dapat memberi ruang bagi Iran untuk mengaburkan kepatuhan terhadap kesepakatan yang mungkin dicapai.

Apabila negosiasi mengharuskan seluruh stok uranium dipindahkan ke satu lokasi untuk diverifikasi dan kemudian dipindahkan atau diencerkan tingkat pengayaannya, maka tanggung jawab untuk mengakses dan menyerahkan seluruh inventaris uranium berada di tangan Iran.

Dalam skenario tersebut, Roecker khawatir Iran dapat mengklaim sebagian uranium tidak dapat diambil kembali.

Sebelumnya Bloomberg melaporkan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menyatakan bahwa pemerintahan Donald Trump sejak awal telah menyadari potensi hancurnya perekonomian global akibat mengobarkan perang terhadap Iran. Namun menurutnya, ancaman Teheran yang sewaktu-waktu dapat memiliki senjata nuklir jauh lebih serius untuk dibiarkan.

"Presiden dan seluruh jajaran pemerintahan sadar betul bahwa setiap tindakan pasti memiliki konsekuensi. Namun, konsekuensi jika Iran sampai memiliki senjata nuklir jauh lebih buruk," tegas Rubio dalam sidang dengar pendapat bersama Komite Urusan Luar Negeri DPR AS di Washington pada hari Rabu (3/6/2026). "Kami sudah bersiap menghadapi respons apa pun."

Pernyataan tersebut disampaikan Rubio untuk menjawab rentetan pertanyaan dari Anggota DPR asal New York, Gregory Meeks. Politisi senior Partai Demokrat di komite tersebut berulang kali mempertanyakan apakah Rubio telah memperingatkan Donald Trump mengenai dampak ekonomi dari perang, yang kini terbukti telah melambungkan harga bensin bagi warga Amerika dan memicu inflasi global.

Penguatan pertahanan oleh Iran menambah kompleksitas dalam proposal kesepakatan antara Washington dan Teheran yang mengharuskan Iran menyerahkan dan memusnahkan cadangan uranium yang diperkaya.

Sebelumnya diberitakan Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan damai sementara yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz serta membantu mengakhiri perang yang telah merusak ekonomi global dan memicu kekacauan di Timur Tengah. Namun, pernyataan yang saling bertentangan dari kedua pihak masih menimbulkan ketidakpastian mengenai hasil akhir negosiasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran yang menurutnya hampir dilakukan pada Kamis. Ia mengatakan para negosiator telah mencatat kemajuan signifikan. Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan peluang kesepakatan ditandatangani mencapai 80%-85%, meskipun masih terdapat kelompok garis keras di Iran yang menolak terobosan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan melalui media sosial X bahwa "Memorandum Kesepahaman Islamabad belum pernah sedekat ini untuk terwujud." Ia menambahkan seluruh rincian akan diumumkan kepada publik pada waktunya. Trump kemudian membagikan ulang unggahan tersebut.

Namun, Menurut salah satu pejabat senior AS, kesepakatan akan berbasis kinerja. Selain pembukaan kembali Selat Hormuz, Iran diwajibkan menyerahkan atau memusnahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi serta membongkar program nuklirnya. Iran juga tidak akan menerima dana apa pun sebelum memenuhi sebagian kewajibannya.

(bbn)

No more pages