Harry menjelaskan perseroan bakal mulai melakukan eksplorasi ke lapisan aluvial dalam dan primer.
Pada tahap produksi, Harry menyatakan perseroan membutuhkan teknologi penambangan yang lebih baru agar produksi meningkat.
Perseroan juga membutuhkan kapal-kapal baru sebab bakal menambang di tambang bawah laut di sekitar kedalaman 50–80 meter.
“Kemudian kita memperbanyak produk-produk turunan dari timah melalui anak perusahaan kita Timah Industri seperti kedepannya kita mungkin tin plate ya, tin plate dan solder paste menjadi target terdekat kita untuk di hilirisasi,” kata Harry dalam kesempatan yang sama.
Selain itu, perseroan juga bakal mengurangi pemanfaatan diesel dan digantikan dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
“Beberapa alat-alat tambang mulai kita berpikir untuk elektrifikasi yang barusan sekarang masih pakai pompa solar,” ucap dia.
Belakangan TINS membidik produksi logam timah di atas target kuartal II-2026, serupa dengan torehan I-2026 yang mencapai 5.630 metrik ton Sn atau naik 82% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3.095 metrik ton.
Langkah tersebut dilakukan di tengah lonjakan harga timah yang telah menembus di atas US$55.000 per ton di London Metal Exchange (LME).
Begitu juga dengan penjualan, TINS menargetkan penjualan pada kuartal II-2026 serupa dengan torehan kuartal sebelumnya sebesar 6.009 metrik ton atau naik 113% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 2.824.
“Yang sudah rilis Q1 sampai Maret, kita di atas target. Kemudian Q2 hampir sama, jadi ritmenya lagi bagus, harga juga lagi tinggi sekali. Jadi momentumnya harus dimanfaatkan.,” kata Direktur Produksi & Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra di sela Indonesia Critical Mineral Conference, Rabu (3/6/2026).
Ilhamsyah belum dapat mengungkapkan apakah produksi dan penjualan sepanjang tahun ini bakal melampaui target yang ditetapkan atau tidak, sebab tantangan operasional umumnya muncul pada semester II.
Ilhamsyah juga menyatakan perseroan bakal menggencarkan aktivitas eksplorasi, untuk mempertebal cadangan bijih TINS.
Dia menjelaskan sumber daya timah perseroan saat ini berada di sekitar 800.000 ton dan cadangan timah berada di sekitar 300.000 ton. Ilhamsyah menyatakan, cadangan tersebut kemungkinan bakal habis dalam rentang waktu 10–15 tahun.
Dia menyatakan perseroan bersama PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) sedang berencana melakukan kerja sama pengembangan logam tanah jarang (LTJ) dengan negara Asia hingga Eropa.
“Iya, jadi enggak cuma di sisi pengembangan bisnis timahnya, tapi REE-nya logam tanah jarang kita lagi eksplorasi ke banyak negara, tapi nanti mungkin Perminas yang lebih bisa bicara mengenai kolaborasi sama negara,” kata Ilhamsyah.
(azr/naw)




























