Logo Bloomberg Technoz

Meski jumlah UMKM manufaktur hanya sekitar 13% dari total binaan, sektor ini menyerap tenaga kerja terbesar, yakni 9.949 orang atau sekitar 63% dari total tenaga kerja yang berada di bawah UMKM binaan YDBA. Secara keseluruhan, hampir 15.800 tenaga kerja terlibat dalam usaha-usaha yang mendapat pendampingan dari yayasan tersebut.

Rahmat mengatakan, prospek pengembangan UMKM ke depan masih sangat besar, terutama dengan semakin luasnya pemanfaatan teknologi digital dan meningkatnya kebutuhan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri nasional.

YDBA telah menyusun strategic roadmap hingga 2028. Pada 2026, fokus organisasi adalah Accelerating Numbers of Active MSMEs atau mempercepat pertumbuhan jumlah UMKM aktif.

Selanjutnya pada 2027, YDBA menargetkan perluasan dampak sosial dan ekonomi melalui penguatan ekosistem usaha. Adapun pada 2028, organisasi menargetkan menjadi pusat keunggulan nasional (National Center of Excellence) dalam pembinaan UMKM.

“Harapannya Yayasan Astra bisa menambah jumlah UMKM lebih banyak lagi. Salah satunya dengan strategi berkolaborasi dengan pembina UMKM, jadi Yayasan Astra juga dapat membina pembina UMKM,” kata Rahmat.

Untuk mencapai target tersebut, YDBA menyiapkan tujuh inisiatif strategis pada 2026. Program tersebut meliputi pemberdayaan generasi muda dan penguatan rantai pasok, optimalisasi pemasaran business-to-business (B2B), penguatan sinergi dengan para pemangku kepentingan, peningkatan efektivitas pembinaan berbasis social return on investment (SROI), digitalisasi pembinaan, pengembangan proyek percontohan pendampingan khusus, serta penguatan struktur organisasi dan kompetensi instruktur.

Menurut Rahmat, kolaborasi menjadi kunci penting dalam memperluas jangkauan pembinaan. Dengan membina para pendamping dan lembaga pembina UMKM di berbagai daerah, dampak program diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kapasitas internal yayasan.

Strategi tersebut juga dinilai relevan dengan kebutuhan UMKM ke depan yang semakin menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemampuan adaptasi teknologi, serta keterhubungan dengan rantai pasok industri yang lebih luas.

Bengkel Autotama Binaan Astra di Kabupaten Karangasem, Bali Raup Omzet Rp7 Miliar

Bengkel Autotama menjadi salah satu UMKM binaan Yayasan PT Astra International Tbk (ASII) yang berlokasi di Kabupaten Karangasem, Bali. Bengkel ini didirikan oleh I Wayan Sutama sejak 2004 silam dengan kapasitas kecil saja.

Mulanya, Sutama hanya dibantu empat karyawan yang terdiri atas satu staf administrasi dan tiga mekanik. Namun, dalam perjalanan usahanya itu Sutama malah ditinggalkan tiga mekanik yang menjadi tulang punggung usahanya.

Setitik harapan muncul di tengah kekalutan Sutama. Ia tiba-tiba dihubungi dan menerima undangan untuk mengikuti pelatihan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Ia mulai mengikuti program pembinaan manajemen, operasional, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang mulai diikutinya sejak 2010.

Perubahan tersebut terlihat dari ekspansi usaha yang dilakukan secara bertahap. Bengkel Autotama membuka cabang kedua pada 2013 dan cabang ketiga pada 2017. Kini, usaha tersebut memiliki tiga lokasi operasional di Karangasem dengan 49 karyawan yang tersebar di seluruh cabang.

"Visi kami menjadi bengkel terlengkap dan terpercaya, dan menjadi pilihan kedua setelah bengkel resmi," katanya.

Kinerja usaha Sutama kini bisa meraup omzet yang pada 2022 berada di kisaran Rp 1,5 miliar per tahun naik menjadi Rp 2,7 miliar pada tahun berikutnya. Hasil penjualan barang dan jasa itu kemudian menembus Rp 3 miliar, hingga kini mencapai sekitar Rp 7 miliar per tahun.

Produksi Garam Desa Les Bali, Miliki Rasa Gurih dan Hanya Produksi 5 Bulan dalam Setahun

Di tengah kecanggihan teknologi, produksi garam secara tradisional kini tak banyak yang menggeluti. Namun, para petani garam Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali memutuskan masih mempertahankan produksi secara tradisional. Bahkan, alat dan lahan yang digunakan sudah turun-temurun dari generasi ke generasi.

Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Les, Nyoman Nadiana  mengatakan, garam produksi Desa Les memiliki ciri khas unik, yakni rasa gurih yang tak pahit lantaran menggunakan media tanah dan air laut asli sebagai bahan produksinya.

Garam hasil produksi Desa Les, yang merupakan salah satu Desa Sejahtera Astra, terkenal dengan sebutan garam palungan. Ia menjelaskan, pembuatan garam palungan diawali dengan mengambil air laut dan disiram merata pada petak-petak tanah yang telah disediakan, untuk proses penguapan. Tahap selanjutnya, penyaringan dalam wadah berbentuk kerucut atau kukusan.

Kukusan diletakkan di atas batang kelapa kelapa yang dibentuk menyerupai palung atau perahu. Terakhir, proses penjemuran hingga air hasil penyaringan mengkristal menjadi garam.

“Produksi garam hanya bisa dilakukan 5 bulan dalam satu tahun. Itu karena produksi dilakukan hanya dengan menggunakan Cahaya matahari,” sebutnya.

Sedangkan untuk pemasaran garam hasil produksi para petani Desa Les inoi dibantu BUMDes. Di mana garam dipasok ke BUMDes Les, dan selanjutnya dipasarkan dalam kemasan menarik. Kata dia, Astra datang membantu dalam hal pengepakan dan model pembungkusan agar lebih menarik.

Katanya, garam yang didistribusikan akan digunakan sebagai media sembahyang masyarakat Bali dan juga digunakan untuk konsumsi pribadi. Biasanya, garam yang hasil produksi dari lahan menghasilkan lebih kurang 25 kilogram. Ia berharap, para petani garam di desa nya tetap lestari dan tak tergerus oleh zaman. 

(ain)

No more pages