Logo Bloomberg Technoz

Pemberdayaan UMKM BRI Buka Jalan Sahate ke Pasar Global


Ilustrasi Pelaku UMKM Naik Kelas, BRI Telah Salurkan KUR Rp158,6 Triliun (BRI)
Ilustrasi Pelaku UMKM Naik Kelas, BRI Telah Salurkan KUR Rp158,6 Triliun (BRI)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi banyak pelaku usaha untuk menghadirkan produk yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Meningkatnya kesadaran akan pola makan sehat membuka peluang baru bagi pelaku UMKM yang mampu menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan konsumen. Salah satunya adalah Lince Sulastri, pendiri usaha Sahate asal Kota Bandung yang mengembangkan camilan sehat berbahan dasar beras.

Berawal dari dapur rumah pada 2022, Lince mulai merintis usaha dengan memproduksi keripik dan aneka kue kering yang mengusung konsep gluten-free serta rendah gula. Produk tersebut dirancang untuk memberikan pilihan camilan yang tetap gurih dan renyah tanpa mengabaikan aspek kesehatan yang semakin diperhatikan masyarakat.

Usaha yang semula dijalankan dalam skala kecil perlahan mendapatkan respons positif dari konsumen. Pelanggan mulai melakukan pembelian berulang, sementara permintaan produk terus meningkat seiring semakin dikenalnya merek Sahate di pasar lokal.

Namun, Lince menyadari bahwa menjaga kualitas produk saja tidak cukup untuk membawa usahanya berkembang. Ia membutuhkan pengetahuan baru mengenai pemasaran, pengelolaan usaha, serta akses terhadap jaringan yang lebih luas agar produknya mampu bersaing.

Momentum tersebut datang ketika Lince mengenal LinkUMKM BRI pada 2024. Platform pemberdayaan UMKM milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk itu menjadi sarana baginya untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kapasitas usaha.

“Saya mulai mengenal LinkUMKM BRI pada 2024 untuk menambah jaringan pemasaran sekaligus belajar mengembangkan usaha,” ungkap Lince.

Melalui LinkUMKM, Lince memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan yang membantunya memahami dinamika pasar serta strategi pengembangan bisnis. Selain menjadi ruang belajar, platform tersebut juga mempertemukannya dengan sesama pelaku UMKM sehingga tercipta peluang kolaborasi dan pertukaran pengalaman.

Berbagai pembinaan yang diterima mendorong Lince membenahi sejumlah aspek usahanya. Mulai dari peningkatan kualitas produk, penguatan strategi pemasaran, hingga penataan operasional dilakukan secara bertahap agar bisnis dapat berkembang lebih berkelanjutan.

Pendampingan BRI Perkuat Daya Saing UMKM

Selain memperoleh pembinaan, Lince juga memanfaatkan layanan digital BRI untuk mendukung aktivitas bisnis sehari-hari. Salah satu layanan yang digunakan adalah QRIS BRI yang dinilai mampu memberikan kemudahan dalam proses transaksi dengan pelanggan.

“Saya menggunakan QRIS BRI untuk memudahkan transaksi karena tidak perlu lagi repot mencari uang kembalian. Harapan saya, usaha ini bisa memberikan dampak ekonomi bagi keluarga dan masyarakat sekitar serta semakin dikenal oleh masyarakat luas,” ujar Lince.

Pemanfaatan transaksi digital tersebut membantu operasional usaha menjadi lebih praktis dan efisien. Di sisi lain, kemudahan pembayaran juga memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan yang semakin terbiasa menggunakan transaksi nontunai.

Seiring meningkatnya kapasitas usaha, produk keripik beras Sahate mulai menjangkau pasar yang lebih luas. Pemasaran tidak lagi hanya mengandalkan penjualan langsung, tetapi juga dilakukan melalui marketplace, pameran UMKM, hingga kerja sama dengan berbagai mitra di sejumlah daerah.

Perkembangan tersebut membuka peluang baru bagi Sahate untuk memasuki pasar internasional. Produk camilan sehat tersebut bahkan telah lolos proses kurasi untuk peluang pemasaran ke Denmark dan Hong Kong, menjadi langkah awal menuju ekspansi ke pasar global.

Untuk mendukung rencana tersebut, Lince kini tengah mempersiapkan sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points atau HACCP. Sertifikasi tersebut menjadi salah satu persyaratan penting agar produk pangan dapat memenuhi standar keamanan dan kualitas yang dibutuhkan di pasar internasional.

Corporate Secretary BRI Dhanny menilai perjalanan Sahate menjadi contoh bagaimana pendampingan yang berkelanjutan mampu memperkuat daya saing pelaku UMKM Indonesia.

“Perjalanan Sahate menunjukkan bahwa dengan ruang untuk belajar, pengusaha UMKM Indonesia mampu bertahan sekaligus terus berkembang. Melalui LinkUMKM, BRI ingin membuka lebih banyak kesempatan agar pelaku usaha dapat membawa produknya melangkah lebih jauh dan menjangkau pasar yang lebih luas,” pungkas Dhanny.

Menurutnya, BRI terus mengembangkan berbagai program pemberdayaan yang tidak hanya berfokus pada akses layanan keuangan, tetapi juga peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan, pendampingan, digitalisasi, serta perluasan akses pasar.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen BRI dalam membangun ekosistem UMKM yang lebih kuat dan berdaya saing. Dengan memanfaatkan platform seperti LinkUMKM, pelaku usaha diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan bisnis, serta mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif.

Kisah Sahate menunjukkan bahwa inovasi produk yang didukung pembelajaran berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi digital mampu membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar. Melalui kolaborasi antara pelaku usaha dan program pemberdayaan BRI, semakin banyak UMKM Indonesia diharapkan mampu naik kelas serta memperluas jangkauan produknya hingga ke pasar internasional.