Logo Bloomberg Technoz

Indonesia dinilai minim eksplorasi masif pada masa lalu, sehingga opsi yang tersisa sekarang hanya mengandalkan program-program jangka pendek untuk menahan laju penurunan produksi alami (decline rate) dari masing-masing blok migas.

“Kalau kita lihat sudah ada beberapa yang dilakukan, termasuk oleh Pertamina, mulai dari program kerja ulang sumur [well work program], pengeboran sumur sisipan [infill drilling], reaktivasi lapangan menganggur [idle field], hingga penerapan teknologi pengurasan minyak tahap lanjut [enhanced oil recovery/EOR],” jelasnya.

Sayangnya, seluruh upaya tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan performa produksi minyak Indonesia.

"Semuanya belum bisa menahan laju decline produksi yang besar antara 10% sampai 20% per tahun," tambah Hadi.

Sebagai solusi jangka panjang, Hadi menegaskan pemerintah tidak boleh lagi menunda eksplorasi masif demi menemukan cadangan raksasa (giant discovery) baru. 

Indonesia membutuhkan lapangan baru dengan skala sebesar Lapangan Banyu Urip yang memiliki cadangan hampir 1 miliar barel.

Dia menyarankan agar pemerintah menggalakkan kembali peta jalan perburuan giant discovery di 6 areal potensial (sweet spot) yang telah teridentifikasi sebelumnya.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), 6 sweet spot migas di Indonesia a.l. Sumatra Bagian Utara, Sumatra Bagian Tengah, Sumatra Bagian Selatan, Lepas Pantai Tarakan, Lepas Pantai Kutai, dan Timur Laut Jawa hingga Selat Makassar.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam paparan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 di Rapat Paripurna DPR, Rabu (20/5/2026) menetapkan target lifting minyak pada kisaran 602.000 hingga 615.000 bph.

Angka itu lebih tinggi dari proyeksi 610.000 bph yang ditetapkan Pemerintah RI dalam APBN 2026.

Lifting minyak bumi ditargetkan mencapai 602.000 hingga 615.000 barel per hari,” ujar Prabowo.

Prabowo juga menargetkan lifting gas RI sebesar 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari untuk periode 2027. Angka tersebut turun dari 984.000 barel setara minyak per hari yang ditetapkan dalam asumsi makro APBN 2026.

Adapun, Pemerintah RI memperkirakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) di level US$70—US$95 per barel pada tahun depan.

Menilik ke belakang, sektor hulu migas Indonesia dalam lima tahun terakhir (2021—2025) melewati dinamika yang sangat menantang. 

Setelah mengalami tren realisasi lifting yang selalu meleset dari target (2021—2024), produksi siap jual migas nasional akhirnya berhasil melewati target APBN untuk pertama kalinya pada 2025.

Berikut adalah perbandingan target APBN dengan realisasi lifting minyak mentah Indonesia:

  • 2021: Target APBN 705.000 bph; realisasi lifting 660.000 bph; capaian 93,6%. 
  • 2022: Target APBN 703.000 bph; realisasi lifting 612.300 bph; capaian 87,1%. 
  • 2023: Target APBN 660.000 bph; realisasi lifting 605.500 bph; capaian 91,7%. 
  • 2024: Target APBN 635.000 bph; realisasi lifting 579.700 bph; capaian 91,3%. 
  • 2025: Target APBN 605.000 bph; realisasi lifting 605.300 bph; capaian 100,05%. 

(smr/wdh)

No more pages