Menurut Fadli, seluruh bantuan tersebut telah direalisasikan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ia merinci, bantuan logistik pada masa tanggap darurat disalurkan melalui BPK dengan nilai mencapai Rp1,456 miliar. Kemudian, bantuan sarana-prasarana didistribusikan untuk 98 cagar budaya dan objek diduga cagar budaya (ODCB) di 19 kabupaten dan kota terdampak melalui tiga unit pelaksana teknis BPK.
“Untuk dukungan SDM kebudayaan, khususnya tenaga pelestari, juru pelihara, seniman atau pegawai terdampak, ini disalurkan Rp113 juta karena banyak juga juru pelihara, seniman, beberapa yang terkena dampak di daerah tersebut,” ujarnya.
Fadli juga menyampaikan pemerintah telah menyiapkan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pada 2026 sebagai bagian dari pemulihan ekosistem kebudayaan di daerah terdampak bencana.
Dalam rencana tersebut, pemerintah mencatat terdapat 325 cagar budaya di Aceh yang masuk program pemulihan. Selain itu terdapat 13 cagar budaya di Sumatera Utara, 21 cagar budaya dan satu situs UNESCO di Sumatera Barat, lima cagar budaya di Sulawesi Utara, serta sejumlah objek di Maluku Utara yang masih dalam tahap kajian.
(dec)































