"Perusahaan menemukan bahwa skema langganan ini perlu keseimbangan yang lebih baik bagi kesejahteraan mitra pengemudi. Oleh karena itu, Gojek memutuskan untuk menghentikan program langganan tersebut efektif dalam waktu dekat," tuturnya.
Pendapatan Turun
Di sisi lain, Hans mengakui implementasi program dari kebijakan tersebut nantinya akan serta-merta memangkas pendapatan perusahaan, khususnya dari layanan GoRide yang berkontribusi cukup besar dari pendapatan total.
"Pendapatan Gojek dari layanan GoRide yang selama ini banyak dikenal dengan nama Gojek akan mengalami penurunan. Namun, kami melakukannya dengan penuh keyakinan bahwa ini adalah hal yang benar dan sebagai investasi jangka panjang kata dia.
Meski demikian, Hans menilai dampaknya terhadap kinerja perseroan pada kuartal II 2026 masih terbatas. Pasalnya, implementasi kebijakan tersebut kemungkinan belum berjalan penuh dalam waktu dekat.
Perusahaan, kata dia, akan terus mengkaji soal dampak lanjutan yang akan terjadi hingga beberapa pekan ke depan. GOTO juga memiliki lini bisnis lain yang diharapkan dapat menopang kinerja.
"GOTO dan Gojek adalah suatu ekosistem yang ada banyak lini bisnis yang saling mendukung dan menopang."
Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto menginginkan potongan tarif bagi pengemudi ojek daring atau online diturunkan menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 20%. Hal ini ia ungkapkan dalam pidatonya pada perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day beberapa waktu lalu.
Regulasi tersebut direncanakan bakal menjadi dasar perubahan presentase 'bagi hasil' pendapatan yang diterima mitra ojol dengan pengelola platform dari 20:80 menjadi 8:92.
“Gimana ojol setuju 20%? 15%? Berapa? 10%? kalian minta 10%? Saya katakan di sini, saya tidak setuju 10%. Harus di bawah 10%,” ucap Prabowo. “Enak saja lo, [mitra ojol] yang keringet [berusaha], dia yang dapet duit.”
(ibn/roy)
































