IHSG menjadi sekian dari Bursa Asia yang menetap di zona merah, index KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), TW Weighted Index (Taiwan), PSEI (Filipina), NIKKEI 225 (Jepang), CSI 300 (China), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Shenzhen Comp. (China), SETI (Thailand), dan KLCI (Malaysia), yang melemah dan tertekan masing-masing mencapai 2,81%, 2,31%, 1,64%, 0,65%, 0,39%, 0,37%, 0,29%, 0,27%, 0,15%, dan 0,05%.
Dengan demikian, IHSG adalah indeks dengan pelemahan terdalam dan paling amblas di Asia dan ASEAN, bersanding dengan Bursa Saham Korea Selatan.
Dari dalam negeri, IHSG tersengat sentimen pelemahan nilai tukar rupiah yang lagi–lagi terjerumus di zona terlemah sepanjang sejarah (All Time Low/ATL).
Mengacu data Bloomberg, rupiah melemah 0,38% di pasar spot menyentuh Rp17.723/US$. Padahal, pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah dibuka melemah 0,11% di Rp17.675/US$.
Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support yang menarik dicermati ada di level Rp17.800/US$ dan selanjutnya support paling pesimistis ialah Rp18.000/US$.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah setelah sehari sebelumnya amblas lebih dari 1% dan menandai meningkatnya tekanan besar di pasar keuangan Indonesia.
Pelaku pasar kini mulai mempertanyakan seberapa kuat Bank Indonesia (BI) mampu mempertahankan stabilitas nilai tukar di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang semakin berat dengan menggunakan metode intervensi pasar.
Pada saat yang sama, yield US Treasury yang masih tinggi membuat arus modal asing cenderung keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia.
Phillip Sekuritas Indonesia menyebut, di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury note) bertenor 10 tahun menembus 4,6%.
Kekhawatiran akan lonjakan inflasi akibat harga minyak yang tinggi telah menyebabkan imbal hasil obligasi melonjak, indikasi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
“Kenaikan imbal hasil akan mendorong kenaikan biaya pinjaman dan berarti pengurangan laba perusahaan di masa depan, sehingga memberi tekanan pada valuasi saham,” papar Phillip Sekuritas dalam riset terbarunya, Selasa.
Kembali dari dalam negeri, upaya meredam gejolak nilai tukar sepertinya belum cukup bertaji. Di tengah badai tekanan eksternal ini, Bank Indonesia (BI) menyebut harus lebih agresif menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik, termasuk melalui kemungkinan penguatan kebijakan moneter.
Tingginya suku bunga Amerika Serikat (AS), lonjakan yield US Treasury, hingga ketegangan geopolitik global mendorong penguatan dolar AS dan memicu pelarian modal dari negara berkembang.
BI sendiri sebelumnya telah menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hampir 100 basis poin untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik.
Menurutnya, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Perry memaparkan pada April hingga Mei 2026 telah terjadi inflow dana asing ke instrumen SRBI sekitar Rp75 triliun. Selain itu, BI juga meningkatkan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam gejolak rupiah.
“Kami lakukan All Out. Dosis intervensinya kami tingkatkan,” paparnya.
(fad)

























