Logo Bloomberg Technoz

Sementara, won Korea Selatan, yen Jepang, dan dolar Singapura serta yuan offshore masih berada di zona merah. 

Mata uang kawasan Asia, Selasa (19/5/2026) (Bloomberg)

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah telah memicu spekulasi dan tekanan terhadap Bank Indonesia untuk kembali mengambil langkah kebijakan yang lebih hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan, setidaknya menjadi 5%. Sebab, intervensi yang dilakukan untuk stabilisasi belum terlihat mampu meredam volatilitas rupiah. 

Fakhrul Fulvian Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia. 

“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level Rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” ujar Fakhrul. 

Senada, Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas juga menyebut kenaikan BI Rate dibutuhkan untuk mengurangi distorsi suku bunga pada sektor perbankan. 

Jika langkah hawkish tidak diambil, risiko yang dihadapi bukan hanya pelemahan rupiah yang akan berlanjut, tapi juga meningkatnya tekanan pada pasar obligasi, likuiditas domestik. Dalam situasi seperti saat ini, pasar mulai membaca adanya selisih yang makin tipis antara yield aset rupiah dengan risiko yang harus ditanggung investor. 

Ketika spread tersebut tak lagi menarik, arus modal asing berpotensi terus keluar dari pasar domestik terutama dari Surat Berharga Negara (SBN) dan instrumen pasar uang. 

Situasi tersebut berpotensi memicu lingkaran tekanan yang lebih luas. Rupiah berpeluang kembali melemah yang kemudian akan meningkatkan biaya impor, terutama untuk energi dan bahan baku industri, dan semakin mendorong laju imported inflation, alias inflasi yang disebabkan oleh aktivitas impor. 

Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) dan besok BI Rate akan kembali ditetapkan. Sambil menunggu pengumuman, pelaku pasar diperkirakan tetap berhati-hati sambil menunggu arah respons BI terhadap pelemahan rupiah yang semakin dalam. 

Apabila belum ada sinyal kebijakan yang lebih tegas, rupiah berpotensi bergerak melemah dan menguji level psikologis baru di atas Rp17.700/US$. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah berpotensi melemah menembus support pada level Rp17.700/US$, support selanjutnya bisa menuju Rp17.750/US$ usai break trendline sebelumnya.

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp17.800/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan rupiah dalam time frame daily, tren bearish jangka pendek (short-term).

Sebaliknya nilai rupiah memiliki level resistance terdekat pada level Rp17.600/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya pada level Rp17.500/US$ sebagai resistance potensial.

(riset/aji)

No more pages