Logo Bloomberg Technoz

Namun pernyataan optimis Jensen itu kontras dengan kecemasan publik soal dampak AI. Berdasarkan sebuah studi dari Pew Research Center, menemukan kurang lebih separuh warga AS merasa “lebih khawatir daripada bersemangat” terkait AI dalam kehidupan sehari-sehari mereka.

Lantas, banyak warganya di seluruh negeri menolak pusat data baru di komunitas mereka, yang diklaim amat penting untuk mendukung produk AI seperti bot percakapan atau chatbot.

Di samping itu, terdapat belasan perusahaan besar sudah menyebutkan peningkatan efisiensi dari AI sebagai salah satu faktor dalam keputusan mereka untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) para karyawan tahun ini. 

Selain itu, AI juga dinilai telah mempersulit pencarian kerja dengan memperpanjang proses wawancara dan mempersulit fresh graduate untuk memperoleh pekerjaan. Pada awal 2026, tingkat pengangguran untuk lulusan baru mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Kekhawatiran ihwal dampak AI sebagian dipicu oleh sejumlah orang di balik teknologi tersebut. Misalnya, pada tahun lalu CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan kecerdasan buatan bisa menghilangkan 50% pekerjaan kerah putih tingkat pemula.

Sementara, Pendiri Tesla dan SpaceX Elon Musk mengatakan kepada podcaster Joe Rogan pada Februari lalu bahwa manusia menghadapi “peluang 20% untuk musnah” akibat efek dari AI.

Sentimen publik yang negatif ini dapat memengaruhi pemilihan umum pemilu paruh waktu di AS mendatang, di mana regulasi AI kemungkinan bakal menjadi topik utama perdebatan.

Di samping itu, dalam beberapa pekan terakhir, Huang telah berupaya untuk membantah prediksi-prediksi suram itu. Dalam sebuah siniar (podcast) Memos to the President awal bulan ini, dia mengatakan para pemimpin perusahaan AI harus lebih “berhati-hati” dalam berbicara tentang teknologi tersebut.

Baca Juga: Booming AI Ciptakan Efisiensi, Lahirkan PHK

“Beberapa komentar semacam itu sama sekali tidak membantu. Komentar itu dibuat oleh orang-orang yang seperti saya—CEO. Entah bagaimana, karena mereka menjadi CEO, Anda mengadopsi God complex (merasa seperti Tuhan) dan, sebelum Anda menyadarinya, Anda sudah tahu segalanya,” ucap Huang.

“Saya pikir kita harus lebih berhati-hati dan benar-benar membumikan diri kita untuk berbicara berdasarkan fakta-fakta.”

Huang pun menyampaikan sebuah pesan sederhana kepada para lulusan baru di Universitas Carnegie Mellon.

“AI kemungkinan besar tidak akan menggantikan [pekerjaan] Anda. Tetapi seseorang yang menggunakan AI lebih baik daripada Anda mungkin akan menggantikan Anda,” tandas dia.

(far/wep)

No more pages