“Memilih EV menjadi alternatif untuk berhemat walaupun ada banyak tantangan menghadang seperti harga jual yang tidak jelas, ketersediaan SPKLU, keamanan dan awetnya baterai,” ungkap Bebin.
Ia menilai perilaku konsumen tidak bisa dipaksa untuk tetap bertahan di kendaraan ICE maupun sepenuhnya berpindah ke EV. Sebab, tiap pengguna memiliki kebutuhan dan keterbatasan yang berbeda.
“Perilaku konsumen tidak bisa dipaksakan untuk tetap memilih ICE atau beralih ke EV karena masing-masing kebutuhan dan keterbatasannya,” ujarnya.
Meski begitu, menurut Bebin, beberapa tantangan kendaraan listrik dewasa ini sudah mulai menunjukkan perbaikan, terutama dari sisi infrastruktur pengisian daya.
“Satu per satu ada perbaikan, seperti penambahan SPKLU. Kecuali resale value yang akan dibentuk oleh pasar ketika volume membesar,” sebutnya.
Sementara itu, Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan, penjualan mobil listrik terus meningkat sepanjang April 2026.
Penjualan wholesales EV tercatat mencapai 14.815 unit atau naik sekitar 40% dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 10.572 unit.
Pangsa pasar kendaraan listrik kini mencapai sekitar 18,34% dari total penjualan mobil nasional.
BYD menjadi merek EV terlaris pada April 2026 dengan penjualan 4.625 unit, disusul JAECOO 3.179 unit, Geely 1.703 unit, Wuling 1.073 unit, dan AION 884 unit.
Secara keseluruhan, penjualan mobil nasional dari pabrik ke dealer pada April 2026 mencapai 80.776 unit atau naik 31,84% dibanding bulan sebelumnya.
(ell)





























